Minggu, 18 Desember 2016

ADAPTASI kutipan BOY CANDRA, dalam novel “Seperti Hujan Yang Jatuh Ke Bumi”.


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan dia menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
ADAPTASI dari--BOY CANDRA, dalam novel “Seperti Hujan Yang Jatuh Ke Bumi”.


Sabtu, 17 Desember 2016

Kamu dan Sebuah Luka


Entah kata atau kalimat apa yang harus aku mulai. Tapi jika aku harus menulis kata yang aku pikirkan, maka yang pertama aku tulis yaitu “kamu”.
Iya, kamu yang sudah hampir dua bulan tak jua bertemu,komunikasi yang hampir lost, percakapan yang masih menggantung, kemudian rindu yang sudah hampir menumpuk. Aku bingung harus bagaimana. Memulai percakapan denganmu? Itu sudah kulakukan tapi percakapan kita waktu itu tak juga kamu rampungkan. Atau memberi kode bahwa aku rindu? Kurasa tak perlu, karna sekecil apapun itu bentuknya, RINDU tetaplah tak akan bisa bersembunyi dan kupikir kamu melihatnya. Sampai  Aku hampir mengaku rindu,memang masih berupa kode,tapi waktu itu aku sedikit bahagia kamu bilang “Aku melihatmu kemarin di pinggir jalan di Jl.A” padahal hari itu aku tak keluar rumah,lalu aku bilang pasamu hari itu “Mungkin kamu sedang memikirkanku” dan kamu menjawab “Iya,aku memang sedang memikirkanmu” membaca jawabanmu lewat chat waktu itu betapa jingkrak jingkraknya aku sampai lupa hal sekonyol itu aku lakukan, kamu tak melihatnya memang tapi kuharap kamu tau bahagianya aku waktu itu.
Aku tak mengerti Cinta bisa sekonyol ini.
Tapi seketika kamu hilang lagi,tak lagi meneruskan percakapan kita. Lama lama hatiku hilang kendali aku mulai tak faham bagaimana seharusnya aku bersikap. Apakah sama sama menghindar sepertimu? Itu sangat menyiksa bukan? Mencoba melupakan malah akan berimbas menjadi selalu mengingat. Atau tiba tiba pergi dan menghilang? Apa itu menyelesaikan masalah? Atau Apakah aku harus lebih lama bersabar? Tapi bukankah sabar itu bukan berarti diam? Harus ada beberapa hal yang aku lakukan sebagai bentuk usaha. Sedang, apapun usaha yang aku lakukan kamu tetap diam ditempatmu, tak beranjak sedikitpun. Sampai aku tak mampu mendefinisikan bahwa kamu pergi atau masih tetap ditempat yang sama. Tempat dimana segala keraguan dan kebimbangan  membersamaimu.
Aku sudah habis kata kata menyusun kemungkinan kemungkinan yang aku pikirkan yang belum tentu adanya. Sedangkan pada nyatanya,melanjutkan hidup denganmu saat ini adalah lebih dekat dengan sebuah ketidakmungkinan. Kamu lebih tepat, melindungi diri sendiri, tak mundur karna bisa jadi menjaga perasaan diriku , tidak juga maju karna bisa jadi berhati hati.
Aku mulai hari ini akan lebih memahami diriku diposisimu. Kuharap aku mampu. Entah sampai kapan aku akan bermain dengan luka yang ku buat sendiri ini,mudah mudahan tak sampai lukaku ini membunuh diriku sendiri. Kuharap kamu sendiri yang akan  segera menyembuhkannya, sungguh saat ini aku sedang tak berharap  ada orang lain yang menyembuhkan ini selain kamu.

Sabtu Malam,17 Des 16

#sijingga

Jumat, 02 Desember 2016

*noteharian


Dan kemudian aku malas melakukan semua hal yang kusukai. Aku jenuh. Entahlah aku benare benar bingung dengan diriku sekarang. Aku sering berfikir negatif seringggggg sekali. Katyaknya kadar asamku dlam tubuhku hampir mencapai 90% aku hampir kehilangan basaku. Aku lemah.
Aku tarik nafas dalam dalam memang sepertinya aku butuh piknik dan kamu. Iya kamu yang selalu bolak balik dalam imajiku. Aku pergi ke dokter disuruh jangan banyak fikiran, konsultasi ke dosen psikologi suruh jangan banyak fikiran,sedangkan kamu memenuhi fikiranku. Aku bingung. Ah ini lebay.
Hari ini benar benar taraf kejenuhanku mencapai stadium 4 kayaknya. Aku bahkan sampai malas mengajar,berbicara dengan anak anak,malas berinteraksi,malas melakukan semua kewajiban maupun kecintaanku. Bahkan menulispun aku bingung entah kemana alurnya.
Semua pekerjaanku berantakan,aku benar benar seperti gak hidup,bahkan semua hal negatif malah memenuhi otakku. Aku takut kadar Asam ku benar benar mencapai 90 % atau  mungkin sampai 100% “Noooooooo..!!!”. i must be MOVE UP,apapun dn bagaimanapun caranya.
Kalian tau,kemarin aku sampai sakit hati dengan obrolan candaan teman temanku
“Hah ? memangnya aku punya teman?”
Teman itu ... makhluk semacam apa sih? Aku tanya lagi makhluk semacam apa? Akhir akhir ini aku merasa hidup sendiri. Curhat kepada media publik dengan tulisan amatiranku,so humble sama semua orang yang mana ku tau mereka suka atau tidak padaku, ketawa ketiwi padahal disisi lain aku melow berat.
Apakah nasibku akan lebih baik jika aku memiliki kaki yang bagus ?
Teman yang banyak ? teman yang slalu mengerti saat suka maupun duka? Teman yang tidak hanya ada ketika butuh? Teman hidup bahkan ? semuanya aku tak yakin bahwa aku mempunyainya.
Aku benar benar jatuh kali ini,aku merasa kembali ke masa dimana ketika aku dulu pernah hampir mati dengan fikiranku sendiri. Enam ahun yang lalu,ya. Aku serasa kembali ke masa itu. Masa dimana aku jatuh,aku seperti mayat hidup. Ah fikiranku ini. Haruskah aku masukkan clean master ke dalam otakku agar semua sampah dalam fikiranku bisa terhapus secara otomatis.

Ketika aku merasa gagal,merasa tidak punya teman,ragu akan punya teman hidup,dan gagao menjadi seorang guru,bahan ocehan dan cibiran orang,aku rasa aku bukan seorang manusia.  I need someone or some people who will understand me well. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,j gdcuwkrh srhliugrna hdbaw,jhaiulernyw;ocnriuw qkrgewjrgulr34cr8934

Senin, 14 November 2016

**noteharian




Maka...
Jika raguku tak kunjung menghilang,
Kapan YAKIN ku datang ?
**

sijingga

Sabtu, 12 November 2016

Mendung pagi ini...


Mendung pagi ini mesra sekali,pun hatiku. Sudah beberapa hari ini pura pura bahagia. Dan aku memang sangat merasa bahwa aku sedang pura pura hidup. Apa yang ada dalam benak kalian ketika bicara “pura-pura hidup”??? ini hal konyol bukan ? tapi begitulah. Aku memang sedang merasa pura – pura hidup.

Aku menyiksa diriku dengan pikiran ku sendiri, aku begitu bingung kenapa lebih banyak asam dibanding basa dalam hidupku ? aku selalu berpikir negatif akhir akhir ini. Aku lelah. Tapi pikiran negatifku tak mau pergi pergi.

Aku mempunyai kekurangan yang tidak semua orang tahu bahwa aku kalah dengan kekuranganku itu. Aku benci pada hal ini,aku yang ambisius,pemberani,peercaya diri,ternyata aku kadang pura pura. Aku bohong pada diriku sendiri. Aku memang kalah dalam hal ini,kalah.

Mendung masih disini, imajiku memutar dan singgah pada masa dimana aku menikmati prosesku beberapa tahun yang lalu untuk bisa hidup kembali. Bagaimana aku mampu melewati dan mengalahkan diriku sendiri dengan terus bangkit,”Tanpa atau dengan alasan apa atau siapapun,ini harga mati aku harus hidup kembali” kataku tegas waktu itu.

“Oke,mendung pergilah. Cukup kau yang mendung dan aku harus berseri setiap hari” harapku dalam hati sambil menatap jendela kamar yang sedari subuh telah terbuka.

Tapi ternyata pada akhirnya,hujan turun dari kelopak mataku.


Sabtu, 01 Oktober 2016

Kamu dan Teka Tekimu

Sudah beberapa hari ini hujan mengguyur kotaku ini,sunyi sepi dingin sendiri tapi Hujan akan tetap romantis,jika itu masih tentang kamu,iya kamu yang dengan tega dan jahat membuat diriku ini menunggu. Aku berkata pada diriku sendiri lalu tersenyum pada setiap genangan air yang terlihat di jendela kamar.manis.
Alunan lagu Teka-Teki dari Raisa,secangkir teh hangat dan drama korea yang menunggu untuk ditonton di Laptop kesayanganku sedang berteman dengan hujan saat itu. Akupun.
Aku mulai meneguk teh hangat yang tersaji dalam sebuah gelas cantik,dan aku menikmati setiap lirik dari lagunya Raisa,aku memahami setiap kata dan aku mulai menikmatinya,dan seketika nama kamu “Zakky” ku ucapkan.
Dirimu buatku slalu penasaran
Terkadang menjauh
Terkadang buatku tersipu malu
Manisnya ucapanmu
Membuatku tak menentu
Ku tak tau Harus bagaimana
-TEKA TEKI-
Yaps,kamu “Zakky”. Lagu ini cocok buat kamu yang masih menjadi teka teki. Kadang orang seperti kamu menyenangkan untuk para penikmat teka teki. Tapi aku bukan orang seperti itu. Aku lebih senang dengan kejelasan,kepastian. Aku tak suka hal yang masih abu abu,dan kamu masih belum keliatan hitamnya.
Syudahlah,perlahan lagunya berhenti dan Teh hangatku sudah habis,aku mengemuti semua bagian bibirku yang masih ada manisnya. Tehnya masih ingin kunikmati,tapi aku bersugesti teh pada gelas yang kedua pasti akan beda rasanya,bukan pada teh saja ada beberapa hal juga yang ku sugestikan bahwa yang kedua kalinya tidak akan pernah sebaik yang kedua,seenak yang kedua,sebagus yang kedua. Emmm dan persepsiku yang lainnya. Soal ini,Aku saja yang faham. Aku pikir.
Seiring dengan Drama korea yang kuputar habis dua episode saja,hujan diluar mulai reda. Teh hangat sudah habis,drama korea yang hanya kuputar dua episode saja,dan sampai hujan yang sudah reda,kamu Bang  masiiiiih saja bolak balik dalam imajiku. Sangat mengganggu.
Aku membuka handphoneku,memutar mutar bola mataku,                                                                           dan tepat berhenti pada putaran kesekian sampailah bola mataku menatap Profil contact BBM mu,”Aku menunggu chatmu!” geramku dalam hati saat itu sambil menggigit bibir bagian bawah.
Chat yang ku kirim kemarin malam,belum juga kamu baca,sedangkan beberapa menit yang lalu kamu ganti Display Picture dan buat PM . Sikapmu yang seperti ini sangat menyebalkan.
Aku mematikan Handphoneku,kemudian aku membuka sebuah Website Favoriteku Inspirasi.co untuk menghilangkan kamu dari pikiranku sesaat. Dan kudapati sebuah cerpen yang penggalannya seperti ini,
“.......Kamu duluan yang membuat lubang untuk masuk,jangan sampai keluar dengan lubang yang berbeda. Kamu duluan yang sudah bikin prolog di cerita sendiri,demi apapun aku tak ingin meneruskan cerita yang berbeda akhirnya,alur yang kamu buat harus kamu teruskan, atau lebih bagus lagi kita teruskan,itu yang aku harapkan.
Itu kataku kepadamu waktu itu. Kamu hanya diam seperti air yang membeku,dingin dan diam,lalu akhirnya kamu mengeluarkan dua buah kata. “Doakan saja..!”
Setelah itu,semua hening dan akupun terdiam. Sungguh aku tidak memintamu untuk segera menghalalkanku kataku waktu itu. Obrolan soal ini obrolan yang sangat berat.
Kamu tak melanjutkan. Namun sehari setelahnya,kamu berkata hal yang sama ini bisa disebut berupa janji janji atau apalah itu. Aku tidak senang dengan janji itu.
Aku berkata padamu bahwa sungguh demi apapun aku tak ingin mendengar atau membaca janji apapun dan dari siapapun,aku hanya butuh pembuktian,lebih atau kurang dari itu,itu terserahmu.
Alea…..?” kamu menghentikan pembicaraan kita. “Aku mohon tunggu” lirihmu sambil beberapa detik kemudian menundukkan kepala. Dan aku berusaha faham. Lalu aku menjawabmu “Aku akan mencoba”.
“Biarkan saat ini aku yang belum mampu apapun menjadi teka tekimu,tunggu aku sampai aku menemukan puzzle ku yang lain untuk kamu lengkapi selanjutnya” tutupmu pada pembicaraan kita. .....” –sijingga-
Ah,bang kamu,masih menggangguku,dalam cerpen saja ada kamu,mmm mungkin aku saja yang sedikit berlebihan,ah maksudku sangat berlebihan,padahal tak ada kaitan nya,tapi aku kait kaitkan.
Aku menutup laptopku, dan aku membiarkan kamu dan teka teki mu ada di bagian pikiranku saat ini.


Masih tentang K A M U , Hafwan

-Aku masih mencoba mengakhiri cerita kita-


Izinkan aku pergi dulu......”
PAMIT,sebuah lagu dari Tulus dalam imajiku,kamu yang melantunkannya,ah padahal ini fiktif. Mas,iya kamu Mas Hafwan maaf aku masih menulis meneruskan  cerita ini,kurasa cerita kemarin menggantung,dan aku masih ingin mencoba mengakhirinya. Ingin memolesnya menjadi lebih manis,walau nyatanya Sad Ending.Entah bagaimanapun caranya aku ingin membuatnya tetap Happy Ending.
Aku tahu Mas,walau hanya sebatas intuisiku saja,aku tahu aku yakin apapun itu  sampai rancugnya kata kata yang kutulis ini,aku ulangi aku tahu aku yakin bahwa kamu baca tulisanku,titik. Bagaimana tidak,sehari setelah aku posting tulisanku,broadcast yang kamu share, display picture akun bbm mu di lengkapi dengan PM mu yang semuanya tertuju pada salam perpisahan menanggapi tulisanku kemarin.
Ini memang seperti dongeng,cerita yang sedikit ku fiktifkan tetap saja kau faham isinya,kita pura pura saling tidak tahu,tapi seolah hati kita saling berbisik,aku sedikit kepedean,tapi entah geer tingkat apa aku bisa segila ini,tapi aku yakin. Tetap yakin.
Aku baca dalam dalam,aku mencoba memahami makna tiap kata yang tertera pada sebuah kalimat pada display picture akun bbmu.
“Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kau sebut dalam do’amu,mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam diam sering menyebut namamu dalam doanya”
Aku terus menatap layar handphoneku dengan mata sedikit berbinar,menahan mata yang mulai berkaca kaca sebelumnya. Dengan tanpa sadar aku tersenyum,ikhlas.
Aku faham apa yang kamu maksud,intinya walaupun tak kamu bicarakan,kamu begitu perhatian,sampai menasihatiku,mungkin agar sedih dan kecewaku sekedar saja. Pikirku padamu positif saat itu.
Aku tahu perjalanan di depan matamu yang masih misterius menjadi alasan kamu menanggapi salam perpisahanku. Entah dari alur yang mana kamu mulai berjalan,meninggalkan kenangan yang tak sengaja kamu ciptakan. Untuk melepaskannya bahkan mungkin aku maupun kamu tak pernah memikirkan hal itu. Kita,maksudku,aku,lebih senang membayangkan masa depan yang kita tak akan tau akhirnya,seperti hari ini,yang kita bayangkan kemarin adalah sebuah kemungkinan. Namun, tidak semua kemungkinan kemungkinan yang terjadi kita bayangkan. Pun saat ini,kita dan perpisahan adalah sebuah kemungkinan yang saat ini tak lagi menjadi kata mungkin yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Sebenarnya,aku tak ingin terus menerus membuat diagnosa tentang semua kemungkinan yang pernah terpikirkan olehku. Kamu,ceritamu dan hidupmu bukanlah bagian dari diriku,namun fikiranku selalu gagal memahami hal itu. Aku selalu saja ingin memaksakan untuk masuk dihidupku,walaupun duniamu sulit untuk kuselami.
Beberapa hari,minggu dan hampir sebulan kamu benar benar pergi,aku mulai menikmati hidupku. Tapi aku masih saja menjadi manusia yang biasa,atau mungkin bisa jadi lebih buruk. Aku masih berusaha mengakhiri cerita kita dengan baik,aku tak berusaha untuk melupakanmu,karna itu akan sebaliknya,semakin aku mencari cara untuk melupakanmu,semakin banyak pula cara aku mengingatmu,dan itu mengganggu fokusku. Sekarang aku lebih senang mencari kesibukan,menghabiskan waktu dengan bekerja,menulis,jajan,ngasuh,bernyanyi dan melakukan kesenangan kesenangan lainnya.
Aku selalu mencintai orang orang shalih,memang kamu ada satu dua hal  lain yang menjadi spesial,tapi selain dirimu orang orang shalih lainnyapun aku sangat cintai. Aku mencintai Rasulmu oleh karna itu aku mencintaimu ,orang orang sepertimu,yang sama sama mencintai  Rasulmu,Rasul kita.
Kalau banyak yang menulis kata kata “Cinta itu tak harus memiliki” aku sangat sepakat. Tak usah jauh jauh membayangkan “kamu” sebagai simbol cinta yang selalu kupikirkan. Cinta itu tak melulu tentang kamu,seperti kita ingin menangkap kupu kupu yang indah pastilah kita ingin mendapatkannya karena kita mencintainya,tapi kita akan lebih senang menyatakan kalau kita “menyukainya”. Kita tidak mungkin menangkap kupu kupu itu untuk kemudian kita bawa ke rumah lalu menemani hari hari kita kan? Karna kita tahu,kita tidak akan mampu menjaga dan merawat kupu kupu itu, kita tak akan pernah tega menyakiti yang kita cintai. Selalu ada cara yang terbaik untuk membuatnya selalu terjaga dan bahagia. Semisal melepaskan kupu kupu itu dan membiarkannya terbang bebas,ikhlas. Itu juga sebuah C I N T A.
Dan kamu,iya kamu. Aku tak akan pernah tega memilikimu dengan tergesa gesa atau terpaksa,cinta tak sebercanda itu. Kita harus tau bagaimana cara mencintai yang benar. Seperti pada kupu kupu,jika membiarkannya bebas bisa membuatnya bahagia dan lebih baik,kenapa tidak. Aku melepaskanmu,menutup perlahan harapan ku,melakukan banyak hal untuk tidak melulu memikirkanmu.
Jika kita memang sudah Allah pasangkan kita pasti akan bertemu,Qada dan Qadar Allah lebih dari apapun yang kita persepsikan. Dan kalaupun tidak,mungkin disini aku belajar mengikhlaskan dan memperbaiki caraku mencintai seseorang.