Kamis, 18 Oktober 2018

Menjadi '"asing"

Ini yang ku khawatirkan, "menjadi asing"

Kau yang biasa menyapa, tak bertanya
Kau yang biasa bersenda gurau, tak berani menimpal,

Tiba-tiba, tanpa saling menjelaskan kita sama-sama merasa 'asing'.
Entah aku dengan perasaanku saja, atau kamu memang tengah sibuk mengurusi hati yang baru.

Persaanmu tak berkawan (lagi) denganku. Ah bukankah, 'bukan lagi sebuah pertemanan ketika satu atau keduanya punya perasaan yang lain.'

Dan mungkin, aku salah satu atau satu-satunya yang dimaksud.
Aku yang menjadi sebab, bagaimana perasaan diantara kita tak lagi 'berkawan',

Maafkan atas ketidaknyamana ini,

Rabu, 17 Oktober 2018

Bukan cerita dalam FTV

It's not a short story wht u mind wid, gak bisa kamu atur alurnya.

Ini jelas-jelas bukan adegan dalam ftv-ftv. Yang sebenernya seseorang yang dimaksud itu adalah kamu. Gak se-drama itu wid.

Ayolah! Bangunnnn! Duniamu masih luas, kamu berhak menikmati hidupmu!

Pengharapan pada Allah takkan pernah mengecewakanmu, perbaiki niatmu!

KELIRU [LAGI]

[Masih keliru]

Aku bahkan belum faham faham dengan diriku sendiri, yang berkali-kali keliru perihal 'perasaan'. Cukup lelah memang.

Padahal sedari awal sudah kuantisipasi agar tak melabuhkan hati pada siapapun kecuali Allah telah izinkan, tapi dasar aku, simanusia yang ngeyyel dengan segala praduga perasaannya.

Terus menerus, meluaskan harapan menyempitkan hati. Hingga harapku tak punya rumah lagi untuk berpulang.

Aku memang sangat melankolis untuk beberapa hal, maksudku banyak hal yang bersangkutan dengan 'perasaan'.

Apalagi ini,
Lagi-lagi 'keliru'

Senin, 01 Oktober 2018

Cerita Pribadi ( Narasi Diri )

Berangkat, dari sebuah nadzar bahwa ‘saya siap nikah kalo mamah dah nikah (lagi)’, saya mulai khawatir karena hingga menjelang hari pernikahan mamah, kisi-kisi yang mau taaruf nggak ada wkwkwkwk, terus, cinta lama kandas ditengah jalan,eak (ituma jaman jahiliyah si), kemudian saya rasa kok ikhtiar saya stuck, dan dugaan (ngarep) saya kerap melenceng, hingga membuat saya memutuskan untuk ikhtiar dengan cara ini.

Jadi, kemarin-kemarin saya bersikeras bilang ke diri saya, kalo saya harus menyelesaikan narasi taaruf versi saya ini. Mau tidak mau, sesiapa yang sudah membuka ini,harus membacanya hingga akhir, kan gak tau yak siapa tau cocok. Hihi.

Nama saya Nurwidya Yuliastini (atau udah tauk?), kebanyakan dari mereka panggil widy, uwid,  nurwid, dan tak jarang dipanggil  widy manis. Lahir, di Garut hari Senin pada tanggal 29 Juli 1996. am sundanese original, meskipun bahasa yang sering digunakan bahasa campuran. Golongan darah saya AB, bolehlah mangga di browsing karakter saya menurut golongan darah.

Untuk berat badan entah kenapa sedari dulu badan saya kurang besar; alias ketcil, sekitar 45 kiloan lah kalo naik sekilo; kalo turun paling sekilo gak akan jauh, dan sistemnya pasti ke gitu. Ah iya, am moeslim yang sedang ikhtiar jadi shalehah. Doakan yak!

Oke, mulai menginformasikan dari mana awal saya belajar di sebuah ruangan bernama kelas. Hihi.
Pertama saya sekolah dasar di SDN Mangkurayat 5 keluar tahun 2008, mangku? ra'yat?beurat? Nggak ko, kalo dibandingin beban hidup saya. Maaf, ini skip.

Setelah mendapati rangking yang naik turun akhirnya saya bisa masuk ke SMPN 2 Cilawu dan mengakhiri proses belajar saya di tahun 2011. Masa SMP yang kurang menyenangkan; mendapati kejadian yang membekas hingga sekarang yaitu accident di Kamis, 17 Maret 2010 lalu, yang membuat tibia fibula saya mengalami fracture yag sangat lumayan berat; semua itu tak membuat saya berhenti untuk lanjut, sampai akhirnya saya masuk ke SMAN 11 Garut dan berhasil LULUS di tahun 2014.

Itupun dengan sangat uyuhan karna cuti 4 bulan untuk re-surgery pemasangan implant di kaki yang kedua setelah empat kali Surgery karna infeksi dan labuhan wae. But tapi saya tetap istiqomah dengan ambisi harus kuliah!, harus belajar dan bersikeras ikut snmptn PLB dan SastraInggris, dan gila juga duadaunaya gagal, SBMPTN pun sama, saya ggal eugeun. Sampai akhirnya saya tersesat (ke jalan yang benar) kuliah di STAIDAM GARUT denagn ambil jurusan PAI, dan lulus tahun ini. Masih anget. Baru kemarin kemarin.

Oke, tentang saya. Untuk kelebihan Kaliian boleh menghubungi pihak Bacil lopers, Aya NH, Geng Kampus, Epa Dewi A, Temen2 yang udah lama senafas dengan saya di beberapa komunitas, atau kamu uga tauk? iya kumaha kamu we.

Untuk kekurangan, apa ya ? banyak eim. Tapi saya mengakuinya kok. Saya orangnya kerap tergesa-gesa, gurung gusuh, harus banget di rem kalo pa-apa, egois, terus kadang poligami pekerjaan yang bikin gak fokus dan gak selsai semua pekerjaan. makannya saya butuh kamu. Untuk hal fisik saya gak mau kufur sama nikmat yang Allah kasih, InsyaAllah gak ada kekurangan sedikitpun kecuali dari diri saya sendiri.

Ah iya, perihal kesukaan, warna kesukaan semua yang bernuansakan hijau, latte dan dark. Makanan favorite banyak eum, saya suka semua sayuran kecuali pare alias paria, tapi lagi belajar buat sukak. Daging mah suka bagian bagian yang bnyak tulangnya, dan gak suka pakai bgt cungur. Ah iya saya sebenernya lebih ke ceker, kepala ayam lopers sih.  And eim, Saya suka coffee, paling keren sih espresso, tapi minimalnya dapat segelas Mocchacino juga madep, saya suka buble drink nya si emang yang deket ramayana, gak tau kenapa, tapi sukak we.

Hobbi, banyak eim mulai nyanyi, masak, ngasuh, bercerita, gambar, dan eim kalo baca nulis mah kewajiban itumah bukan Cuma hobi. terus seseurian paling, tapi setelahnya istighfar kok.

Ah iya kegiatan sehari-hari,biasanyeu gegeroh, ke sekul belajar jadi guru tapi masih tukang ngajar si belum jadi guru, terus lanjut ngantor di Aku Bisa Ngaji eh sebenrnya ngjaga kantor doang si, sambil main, kalo gak ngantor ya ngeBimbel, atau kalo gak juga ya agenda lain, atau jalan-jalan dan semacamnya.

Nah ini, kalo diluar rumah  saya pernah aktif di IPMAKA shs 11 Garut, English Club SHS 11 Garut, terus Ikatan Remaja Mesjid Alfurqan hingga now sih meski dah expayeur, terus pernah dan masih aktif sama barudak IMM til now, volunteer di lazisMU,sukak ngamen di PNG, Suka abring-bringan sama barudak AKU Bisa Ngaji.

Mulai ke hal yang lebih serius eak, Visi Misi saya agak seukrit sebenernya kalo buat ditulis disini, intinya saya bakal share kalo si pembaca tertarik setelah baca ini, jadi nanti aku japriin lah yak.  Perihal keluarga, Ayah Saya Ahmad Permana, Ibu saya Entin Supartini, mereka sudah berpisah semenjak saya lahir, untuk hal ini juga lebih lanjut dibahas kelak kalo udah tahap serius yak. Hahaha. But hingga sekarang saya hidup bahagia sama mamah, dan kadang berkabar dengan bapak. Kalem, nanti kamu dikenalin kok ke mereka. Atau ada yang sudah kenal salah satunya?

Saya anak ketiga (bungsu) kedua kaka saya udah menikah, yang satu di bandung, satu lagi disini dan balad guntreng sebenernyamah. Saya sangat dekat dengan keluarga terlebih bi Dijah dan Ema Ara yang semenjak 2010, sering saya susahin sebagai pengganti mamah kalo kagak ada di home. Mereka yang jagain saya anu ogoan,dan sekarangpun kalo apa-apa yang pertama saya ingat mamah, bibi, ema. Mereka pokonyamah!

Kriteria calon pasangan? Gak muluk muluk sumpahna. Yang penting sholeh- kalo ganteng nya pasti kan soleh, pinter? Asal cerdas welah, wios kirang pinter ge. Wkkkwkw. Kembali ke awal sih. Yang penting soleh dan nyambung diajak ngobrol!
kan gak mungkin ketika saya ngbrol panjang lebar ngakak so hard atau curhat, dia cuman jawab‘hemmmm’ atau ‘hehe’, ahhhh nooo, gak bisa!

Terus, sebernya dari dulu sih, kalo bisa nawar mah sama Takdir Allah, pengen banget nikah sama temen, maksudnya yang udah tau saya gimana terus udah senafas, udah hapal keburukan masing2, tapi kalakah temen saya udah banyak yang mendahului, haha. Tapi kalem sih masi banyak. Mudah-mudahan ya lur, esok lusa “Teman tapi Menikah” bukan Cuma isu, kamu geura ka rumah atuh! Becanda si, mon maap. Bebas, intinya yang soleh dan nyambung!

Rencana setelah menikah ? belajar jadi istri taat sama suami, terus jalalnin visi misi yang pada tahap taaruf kita satu jalur-in road map kita,

Terus intinya identitas saya yang lagi belajar jadi seorang guru mah gakbisa diganggu gugat, kalopun harus jadi Ibu Penuh Waktu- saya ajak suami bangun Rumah Belajar Jingga yang udah di roadmap-in sedari dulu.aamiin. kamu dukung ya!

Pisah rumah? Jangan kerja? Bikin usaha bareng?  saya sepakat suami. Pokonamah kumaha aa we!

Tapi, saya yakin pokonamah sama Q.S Annur ayat 26 and   finally, i say that “Kita pasti akan dipertemukan, dengan apa-apa yang kita cari”

boleh balas via japri di wassap 0895355205150

Rabu, 19 September 2018

Menjadi 'aku'

"Aku bisa saja menganggap ia tak ada. Tapi ku tak pernah bisa melakukannya. Bukan tak bisa, maksudku aku hanya tak ingin"
Kehadiran 'bapak', salah satunya.

Aku bahkan malas untuk membahas hal seperti ini. Tapi keadaanku terus menyinggung hal-hal serupa.

Kurasa, menjadi 'aku' bukanlah sebuah pilihan. Lahir dengan tanpa seorang ayah, dididik dan dibesarkan hanya dengan kedua tangan seseorang yang takzim dipanggil 'mamah'.

Menjadi 'aku' bukanlah sebuah pilihan, duduk di deretan nama Kartu keluarga dengan nama Ayah yang bukan sebenarnya. Ijazah dengan nama 'ayah' orang lain.

Yang terberat, menjadi 'aku' adalah mendapat setiap restu hanya dari seorang 'ibu' saja.

Bukan menyesal. Aku hanya sedang jujur dengan diriku sendiri. Bahwa menjadi 'aku' bukanlah sebuah pilihan.
Kemudian,

Kelak, kamu akan menikah. Lantas wali nikahmu akan siapa?

Hal-hal semacam ini pun menjadi krusial dalam pikiran.
Apa mesti bohong itu perpanjang masa aktifnya?
Apa hal ini serupa berbohong seumur hidup?


Lantas, bagaimana bisa aku memilih menjadi 'aku' yang lain?

Selasa, 10 Juli 2018

Masihkah atau Sudah?


Masih membereskan undangan, tiba-tiba ponselku bergetar, sebuah nama yang tertulis di layar ponsel mebuatku terdiam deg-degan. Ada apa dia menelponku?.

“Afwan akhi, ana mau tanya sesuatu boleh?”

“Iya, silahkan?”

“Apa antum sedang taaruf dengan seorang akhwat?”

Hatiku tersentak seolah petir di siang bolong menyambarku, rasanya langit runtuh tepat diatas kepalaku.

Kenapa pertanyaan ini keluar dari mulutnya sekarang ? sedangkan kenyataan akan akan mengecewakannya. Aku bingung harus menjawab apa, mengapa perempuan ini mengeluarkan pertanyaan yang sudah terlambat untuk dipertanyakan?

“Eu..eu afwan, ana tidak bisa menjawabnya”

(Story Of Haikal – Setia Furqan Kh)
***
Asma menatap dalam-dalam layar handphonenya, melihat video percakapan sort movie itu, seketika hati Asma tersentak. Apa mesti ia melayangkan pertanyaan yang sama seperti akhwat dalam film tersebut?. Asma terdiam. Ia terus memainkan scroll handphone-nya, mencari tau kabar Hafwan.

Namun tak satupun media sosial yang ia ketahui perihal dia. Sudah lama, mereka tak ‘lagi’ bersua di media sosial manapun.

Ia terus mengetik ulang ‘hafwan kafil Halim’ di layar handphone yang sedari tadi masih dalam genggamannya.

“Aduh asma, wake up. Bukankah setelah dulu kamu bertemu Andi, semua kontak Hafwan kamu hapus?” ia ketus pada dirinya sendiri, penuh sesal. Kedua alisnya mengernyit, bibirnya mengecil iaterus menggurutu. Tak seorangpun yang menghiraukan. Pantas saja, bangku-bangku yang berada disekitarnya ternyata kosong tak terisi. Disana hanya ada ia yang duduk sendiri, dan dua orang ibu muda yang tengah makan mie ayam dibawah pohon. Jadi, tak ada yang tau bagaimana Asma begitu kesal pada dirinya sendiri.

Asma yang merasa kesal, ia menutup layar handphone. Lalu, berusaha memperbaiki suasanan hati dengan memasang headseat dan memainkan playlist Subi –Ina Dua munsyid Favoritenya.
Namun, tetap saja. Meski ia tengah bersama playlist yang ia dengarkan, ia masih tetap diganggu dengan bayang-bayang Hafwan.

“Aku kok sebodoh itu ya dulu, hanya karena Andi, aku hapus semua kontaknya. Padahal dulu ia berusaha mencari kontakku, sampai minta sendiri sama Tari” gerutunya dalam hati.
Tiba-tiba dering notif masuk ke handphonenya, didapatinya undangan pernikahan dari temannya Hafwan. Ini sangat relevan.

Ada perasaan bahagia seketika saat itu, Asma merasa Allah sedikit memberi petunjuk pada perasaannya, meski ini tersirat, ia merasa bahwa ini berita baik untuknya.

“Mas Soleh, kira-kira orang Solo akan hadirkah?” tak sadar ia mengetik sebuah pertanyaan untuk Mas Sholeh di sebuah ruang Chat Whatsapp.

Tanpa berpikir panjang Mas Soleh tau siapa yang dimaksud oleh Asma.
“InsyaAllah ada”

Hati Asma seketika berbunga-bunga, deg-degan dulu yang lama tak pernah ia rasakan muncul lagi, ia merasakaan lagi deg-degan pada kali pertama ia bertemu hafwan dulu percis seperti saat ia mendengar bahwa ia akan bertemu Hafwan dipernikahan Mas Soleh.

Belum jua matahari turun, ia sudah terburu-buru beranjak membereskan buku yang lama tergeletak disampingnya. Ia melepas kedua headseatnya sambil kemudian beranjak meninggalkan bangku taman tengah kota itu.
***
“Nyatanya, apa –apa ang terbaik tak pernah ada dalam takaran manusia”
(Kurniawan Gunadi)

Dulu, ia pernah mengundurkan diri dari memantaskan diri untuk hafwan, hanya karna keluarganya kalangan hafidz-hafidzah. Sampai ia bertemu dengan Andi dan dan berpikir bahwa semuanya harus berubah. Ia merasa bahagia dan memutuskan untuk menjalankan kisah bersama Andi.

Namun nyatanya, tak seperti itu, Allah berkehendak lain, Andi bukan yang terbaik untuk Asma. Asma jatuh dan terpuruk hingga dua tahun because of Andi. Ia terjebak oleh perasaanya sendiri.
Perasaan cinta yang bukan lagi sedamai ketika ia mencintai Hafwan.  Dulu ketika ia menyimpan hati Kepada Hafwan, ia merasa Allah selalu hadir didekatnya. Namun jauh berbeda ketika bersama Andi, yang ia rasakan Andi adalah segalanya, ia benar-benar masuk zona jahiliyah selama itu.

Dan sekarang, setelah dua tahun berlalu luka yang Andi beri untuk Asma, Asma merasa ia mesti sembuh.

Karena bukankah obat patah hati adalah hat iyang baru?

Entah hati siapa yang akan menyembuhkannya itu, Tapi yang Asma mau, hati seseorang yang hatinya untuk Allah, dan berani menjatuhkan  hati padanya Karena Al;lah pula.
***
“Barakallahulaka wajama’a bainakuma fii khair,Mas Soleh....” langkahnya tertahan agak lama di Mas Soleh, ia lupa ada mempelai istri disampingnya, tapi ia terganggu denagn pertanyaan yang sebenarnya sangat malu ia pertanyakan, namun belum sampai ia bertanya, Mas Soleh mendahului,

“Mbak, dia gak datang, saya sudah bilang bahwa Mbak menanyakan kabarnya, tapi dia gak jawab apapun”

“Oh, gak papa, gak papa kok mas, saya gak begitu menghiraukan” Asma sedikit alibi dengan perasaanya.

Hidangan dari resepsi itu, tak ada satupun yang menggugah selera makannya, Asma sedang merasa tidak baik-baik saja. Ia malah terus mengocek-ngocek sedotan air minumnya, dengan tatapan kosong.

“Ma, Asma! Dimakan ma!” Tari yang sedari tadi bingung dengan tingkah Asma, menegur dengan menepuk pundak Asma.

“Eh, eh iya Tar, bentar”

“Mas Hafwan, Ma?”

“Eung... nggak kok, aku cuman udah kenyang, tadi lupa harusnya aku gak ambil nasi”

Tari merasa heran degan tingkah Asma, yang memang sangat aneh, ia ingin bertanya, namun ia paham betul bagaimana Asma, jika ia mau, ia akan menceritakan apa masalahnya tanpa ia tanya. Maka ketika itu, Tari memilih diam dan mengrampungkan makanannya.
Sedang Asma, yang masih dengan segelas air dan satu porsi makanan yang ia pajang di kursi sebelahnya, masih dengan rasa yang sesak.

“Apakah, Mas Hafwan sudah tak lagi ingin tau apa-apa  tentang aku?” tanyanya keras dalam hati.
***
“Ingat Ma, kata Bang Kugu juga apa-apa yang terbaik tak pernah ada dalam takaran manusia!”


Sabtu, 21 April 2018

Selepas kepergian (hati)mu


Sore itu, aku yang baru saja turun dari angkutan umum, berdiri bersama buku dalam genggaman mengrah ke kendaraan yang berseliweran. Ada yang melintas sesaat, ketika seorang bapak menghentikan motornya tepat di sebrangku; Sebelum ia berbalik badan, ada punggung yang kukira milikmu.
Aku hilang ingatan, bahwa kamu bukan lagi bagian dalam ceritaku.
***
Sore yang kian mengabu, tak jua hujan. Ia hanya setia dengan gumpalan awan yang menghitam. Entah pertanda apa cuaca sore itu, begitu dramatis.
Diantara mendung, aku yang tak berpayung menikmati sepi disepanjang perjalanan.  Hingga sampai di sebuah ruangan yang kunamai kamar, tetiba yang melintas dalam pikiranku adalah dirimu.
Aku yang pura-pura lupa padamu, nyatanya tak bisa menahan hawa nafsuku untuk mencari tahu kabarmu setelah dua tahun tak saling ‘Hallo’.
Aku bahkan rela membuka akun lamaku, hingga seniat ini. Tak lama setelah berhasil sign in, aku  langsung mengalihkan linimasa akun medsosku ke kolom pencarian. Lalu dengan tanpa ragu mengetik namamu huruf demi huruf.
Sebenarnya, ada sedikit harap, dimana tak ada lagi potret dia di beranda akunmu. Karna sebelumnya aku tahu, dia dengan terang-terangan memberi tahuku bahwa dia sudah lagi tak se-visi denganmu. Soal ini aku sangat tak niat menceritakannya. Sebelumnya aku tak mau tau kabar hubunganmu dengannya. Tapi dia, dengan murah hati memberitahu kepadaku, bahwa dia sudah tidak lagi denganmu. Klise.
Dugaanku tepat, aku salah dan selalu salah menduga perihal ‘kamu’.
Pemandangan beranda akun medsos mu yang menampakkan diri tepat di depan lensa mataku,  membuat aku lupa di detik yang mana aku seharusnya menghembuskan nafas. Aku sesak.
Potret wajah bahagiamu dengannya membuat wajahku kelut. Kamu yang duduk bersila dengannya, menafsirkan banyak arti perihal bahagia.
Ah iya,  kupikir jikapun cerita kita masih berlanjut aku sudah tentu tak akan mampu duduk bersila sesempurna itu denganmu, dan mungkin kamu tak akan sebahagia itu jika denganku. Itu kekuranganku. Kamu tahu itu.
Aku melihat detail kapan poto itu kamu posting.  Dan ya, lima hari setelah dia berkata terang-terangan sudah tak lagi denganmu padaku.
Apa setelah dia mencoba pergi kamu mengusahakannya, mengejarnya, menahannya untuk pergi hingga kembali?
Aku hanya tersenyum geli menjawab pemaparan pertanyaan dari diriku sendiri. “Manis” kataku seketika dalam hati.
 Ada yang belum aku tahu darimu, ternyata kamu cukup kuat soal memperjuangkan.
Tapi sayangnya hanya dia. Pada dia.
Dulu, aku bahkan tak berhak untuk itu.
***  
Entah di putaran keberapa playlist Michael Buble dengan Lost-nya menemaniku dengan bayangmu; sampai aku tersadar, kenapa aku hingga sekacau ini?
Apa karena kita ‘pernah’ bersama, meski masing-masing dari kita mendefinisikannya dari perspektif yang berbeda?
Selepas kepergian (hati)mu, maaf aku yang kembali menikmati luka.