Minggu, 19 April 2020

Tentang "Apakah anak yang susah diatur atau kita yang belum bisa mengatur anak?" #reviewWebinar1


Pagi hingga menjelang siang kemarin saya bersama Abah Ridwan diberi kesempatan Peacesantren Welas Asih untuk belajar di Seminar Online yang digalakkan oleh STAR TRAINING & CONSULTING, banyak sekali ilmu juga cerita menarik yang kami dapatkan dari webinar tersebut.

Sebelum memasuki sesi materi utama tentang “MENGATASI ANAK YANG SUSAH DIATUR”, kami dipersilahkan menyaksikan tayangan yang didalamnya memperkenalkan pemateri pada hari tersebut yaitu, “Wasmin Al Irsyad, S.Pd., M.Pd”

Pada tayangan tersebut Pak Wasmin mengenalkan “Hypnoparenting” , kata kunci yang melekat dalam ingatan saya yaitu ketika salah satu narasumber bilang, ‘Uyah moal tees kaluhur’ yaitu sebuah istilah *paribasa bahasa sunda yang artinya, perilaku orang tua pasti akan turun pada anak.

Kita pasti sering bertanya kenapa anak kita tidak mau belajar? Kenapa anak kita nakal? Kenapa anak kita belum bisa mandiri? Dan kenapa- kenapa lainnya.

Namun, kita jarang bertanya pada diri sendiri kenapa kita belum bisa membuat anak-anak rajin belajar? Atau kenapa kita belum bisa membuat anak-anak mandiri? Dan sebagainya.
Ilmu ilmu parenting lama kita kebanyakan berbicara tentang pola asuh, bagaimana cara mengubah anak, tapi berbeda dengan hypnoparenting yang berbicara tentang perilaku orangtua terlebih dahulu.  

Semisal tentang, perilaku kita yang mana yang tidak efektif mengurus anak? Kenapa nasihat nasihat tidak bekerja? Dan sebagainya.

Dengan Hypnoparenting itulah, kita mencari tahu satu persatu kekeliruan kita dalam mendidik anak.

Sangat panjang memang pembahasan ini, mungkin setelah melihat tayangan ini saya juga ingin mencari tahu lagi, perihal Hypnoparenting.

Kemudian, lanjut ke sesi topik utama tentang “MENGATASI ANAK YANG SUSAH DIATUR” , untuk memulai sesi ini Pak Wasmin menghubungkan dengan tayangan video sebelumnya, sampai kemudian sebuah pertanyaan yang cukup menampar para peserta seminar keluar dari Pak Wasmin,

“Apakah anak yang susah diatur? Atau kita yang tidak bisa mengatur anak?

Ternyata memang kita yang belum cukup mampu mengatur anak, kita kebanyakan terlambat dalam  mengatur anak.

Sebetulnya beberapa pembahasan relate dengan Disiplin Positif yang sebelumnya sudah saya pelajari dari Abah Irfan, bagaimana harus kind and firm, konsekuensi logis, punishment yang membantu dan reward yang punya prinsip- prinsip pemberian bermakna, dalam istilah ini Pak Wasmin mewadahinya dalam “Tips Gamification Parenting”

Salah satu pemberian reward yang tidak disadari contoh kecilnya ialah,

ketika anak meminta kita membukakan permen, kebanyakan kita membuka plastiknya kemudian memberikan permennya bukan?
Tapi berbeda dengan apa yang dilakukan pak Wasmin dan istri pada enam anaknya,
Ketika membukakan permen yang pertama kali ia berikan pada anaknya adalah plastiknya, setelah si anak berhasil membuang plastiknya barulah Pak Wasmin dan atau istrinya memberikan permen itu.

Sesederhana itu bukan?
Saya selalu ingat apa yang pernah dikatakan Mbak Ochi, Guru BK Darul Arqam pada saya suatu waktu bahwa “Mendidik itu tidak bisa mendadak”.

Begitulah, bagaimana sejak dini Pak Wasmin menanamkan tanggung jawab pada anaknya.
Karna untuk menjadikan anak disiplin, rajin belajar, rajin ibadah dan perilaku baik lainnya kita hanya perlu menanamkan tiga hal penting sejak dini, yaitu Mandiri, Tanggung Jawab, dan Visioner.

Lalu, bagaimana untuk kita yang merasa sudah terlambat? Anak- anak sudah mulai remaja atau dewasa tapi belum bisa seperti apa yang kita bayangkan, pak Wasmin hanya memberi clue dengan mengatakan, ‘cuman empat huruf kok’ tapi kita susah untuk itu.
TEGA

Yash, Abah Ridwan menjawab dengan tepat pada sesi itu. Kita tidak TEGA ketika mau mencoba mengatur anak untuk kebaikannya.

Kita hanya perlu konsistensi dan ketegasan ketika memberikan aturan. Dengan tanda kutip kita tidak membawa senjata-senjata berbahaya pada anak seperti mengancam, menyogok, membandingkan dan menyakiti verbal/non verbal.

Lakukan apapun sesuai kesepakatan awal, ketika waktu belajar ia pakai untuk bermain tanpa banyak berbicara kita ambil gawainya kemudian ingatkan kembali, ulangi apa yang sudah disepakati.  

“Aa Teteh kita kan sudah sepakat yaa main game tidak pada waktu belajar, Yuk belajar dulu”
Setelah kita melakukan ini anak pasti akan memelas, merajuk atau bahkan marah tapi kita harus TETAP TEGA, teguh pada pendirian.

Kata Pak Wasmin, kita perlu menggunakan “Transaksional” untuk beberapa hal tapi tidak untuk “kasih sayang”

Semoga ulasan saya ini tidak berhenti disini, terus belajar dan mencari.

April hari ke dua puluh,
Di rumah aja
Oleh: Widy

Jumat, 17 Januari 2020

Aku takut

Aku takut
Banyak banget ketakutan dalam hidup aku, sampe sampe aku ngerasa aku udah anxiety akut, bener-bener ngerasa depresi setelah 10 tahun lamanya diasuh sama obat tulang terus seakrang banyak pantangan dan hambatan dalam hidup--banyak kekurangan, banyak banget yg aku gak bisa, sesederhana disuruh lompat pas fun games aja aku baper, nangis duluan karna gak bisa. Ya Tuhannnn selemah ini banget.

Seminggu kemarin tuh bener2 ngerasa ada di tingkat terendah dalam hidupku, apalagi pas si kaki kiri yg sembuh yg jarang banget jadi pusat perhatian tetiba sering pegel dan nyeri panggul kirinya.

Disana, aku nangis senangis nangisnya, nyalahin diri sendiri kenapa sakit, terus kenapa gak bisa jaga diri, kenapa ini kenapa itu, semuanya aku tumpahin ke diri sendiri.

Udah, udah ngerasa cape. Nggak bisa dijelasin lagi gmana capenya. Bener bener cape.
Sampe aku yakin, mamah pun sangat cape dengan aku, keluargaku cape, temen2ku pun spertinya cape denger keluhan aku.

Aku cape.

Udah diposisi itu, aku bener2 menolak sakit, aku merasa kuat aku pantang semua sakit meski demam aku nggak makan obat karna yakin gak akan apapa. Pdahal disaat itu aku sedang berbohong pada diriku sendiri.

Gak bisa. Aku harus rasain capenya aku, lelahnya aku, aku harus nikmatin. Nggak bisa dihindarin, nggak boleh lari.

Setelah bener bener udah gak bisa nolak lagi, aku baru sadar, pelan pelan aku mulai lagi diawal, setiap jatuh aku mencoba untuk lahir kembali, entah kali keberapa aku restart usaha aku buat meneruskan perjalanan, ini emang susah.


Aku juga benci ketika aku harus memulai kembali, tapi ini hidup. Cape harus dinikmati, gak papa nanti akan ada waktunya pulang, kita istirahat selamanya.

Selasa, 19 November 2019

Episode L U P A (oke Qum! Remember!)

Oke, iya. Aku emang beda.
Di detik aku denger itu, aku nangis senangis nangisnya dong. Bukan karna rasa sakit sih, tapi karna pernyataan mamah yang emang bener.
Seketika aku langsung mikir banyak.

apa aku tak berhak punya mimpi bertualang ke tempat yang aku senangi? 

Apa aku tak berhak  berusaha menjadi manusia normal seperti yang lainnya? 

Apa aku tak berhak melakukan banyak hal seperti bnyak orang?

Aku lagi lagi jatuh. Dan futuur. Semangat ku bener2 dibawah rata rata. Perkataan mamah bener2 menjatuhkan aku.

Meski aku akhirnya tau itu adalah bentuk sayang nya mamah yang berlebihan,

Aku lupa, kalau dalam proses berdamai dengan diri sendiri ada poin menerima diri sebagai bentuk rasa syukur.

Aku lupa, syukurku bukan sebatas rasa terimakasih saja.

Aku lupa, bahwa aku juga mesti menerima diri. Menerima bahwa aku sudah Allah ambil sedikit nikmat kekutan kakinya, bahwa aku memang tidak lagi sama dengan teman lainnya, bahwa aku memang punya hip palsu yang sangat berbeda dengan ciptaan Allah.

Aku lupa semua itu.

Padahal, ketika aku menerima semua keadaan itu. Aku akan benar benar bersyukur akan banyak hal yang menjadi kelebihanku, bersyukur akan banyak hal yang tidak mesti dirubah dari pemberianNya tapi fungsinya masih terjaga, bersyukur akan apa apa yang masih banyak bisa kulakukan sedang orang belum mampu melakukannya.

Aku lupa, bahwa menerima adalah bentuk dari rasa syukur.

Setelah duahari lamanya aku terpuruk dan bangkit lagi, aku merasa qum sedikit lebih baik. Ditambah support sistem sepaket keluarga besar, sahabat, serta dorongan teman2 yang Allah kirim padaku mereka boosting terbaik dan alasan utama kenapa aku mesti tetap meneruskan jejak.

Belum juga selesai disini, di hari ke tiga aku ngerasain sakit yang banget, beberapa rekan kerja bertamu dan sedikit bercerita bagaimana aku menurut pandangan mereka.

Katanya, "widy itu kuat, widy hebat kita bahkan gak sadar kalau widy sakit, kalau widy punya kekurangan😔"

Ah, tertipu banget mereka. Mereka gk tau gimana lemahnya aku 🤣. At least... Aku bersyukur semua kuatku berasal dari Allah...

Dan terakhir, Aku lupa kalau aku punya kelebihan yang bahkan aku sendiri gak sadar itu kelebihan aku.

Dan itu, jadi senjata aku buat terus bangkit.

Ayo Qum! Remeber! You Can!

Episode L U P A (diri) #1

"Disehat sehat ge da teu sehat" kata mamah dengan sedikit berair.

Oke, hari ini aku seperti mimpi buruk. Aku berada di fase yang aku sendiri gak pernah membayangkannya.

***

Sore itu eimm lebih tepatnya malam itu, aku dan kedua temanku pergi bertualang ke salah satu kaki gunung di garut. Aku ulangi yaa, K a k i g u n u n g.

Bayanganku, aku akan menaiki titian anak tangga yang secara alami di bentuk tanah yang bisa aku itung jari, semisal sampe 30 anak tangga lah (?) banyak yak?😅 oke oke.

Ini kaya perjalanan sederhana, dan aku ngerasa aku udah jauh lebih baik setelah 9 bulan oprasi. Si Qum (my bionic Hip) akan baik baik saja --wong cuma bukit doang. Dan kemudian, aku tentunya dengan izin mamah boleh camp bersama teman2 disana.

Hanya satu malam. Dan aku sangat menikmati perjalanan.   Selfie, menikmati alam dan membaca buku dibawah pinus.  Ah, Poetic sekali.

Sangat bahagia, bisa merecharge hati dan pikiran disana. Ah iya, sebut saja tempat itu 'Karacak Valley' salah satu sudut romantis di kota Garut.

Perjalanan singkat untuk cerita yang panjang. Dan sulit aku diksikan disini. Karna memang bukan itu yang menjadi topik ceritaku kali ini.

Sepulang camp. Aku dan teman2 bahkan merencanakan perjalanan lanjutan menuju sunflower garden di cilopang, sangat orowodol kalau kata Bah Ridwan (rekan kerjaku di Welas Asih, gak orowodol gimana? si qum udah dibawa naik turun  bukit, momotoran jauh, terus mau diajak jalanjalan lagi ke cilopang?

Ini yang sedikitpun nggak aku renungin waktu itu. Oon.

Semalam setelah pulang dari Karacak, tiba2 mimpi buruk itu datang. Bukan mimpi. Tapi memang kenyataan. Kakiku sakit. Nggk kewalahan sakitnya. Sakit yang pake banget. Sampe2 aku butuh crutch (tongkat) buat menopang jalanku.

Di hari itu,aku mikir ini hanya akan kontraksi satu duajam setelah itu keknya biasa lagi. Kemudian aku memutuskan untuk kembali bekerja ke tempat yang baru, belum juga setengah hari disana. si qum bener bener kek marah, kecewa sedih campur aduk lah, dia susah banget buat diajak ngelangkah.

Pengen nangis banget rasanya waktu itu juga. Tapi gak bisa. Disana akan banyak orangtua santri juga santri. Dan aku si manusia narsis gak mau banget dikasihani dan jadi pusat perhatian. Dan detik itu juga aku memutuskan putar balik kembali ke runah dengan keadaan naik grab bike pun nyerinya minta ampun, nahan linu sekitar 40 menit perjalanan sambil gerimis mengundang dan itu tuh usaha banget.

Sampe dirumah, yang pertama aku cari adalah si crutch. Ah penolong qum banget lah. Dari Allah tentunya.

Tapi, ini belum selesai. Aku tiba2 kena khawatirnya mamah yang berlebihan sampe bilang...

 "Udah gak usah kerja, pindah lagi aja, berenti aja!"

Lemes dong denger itu. Aku yang sakit cuman bisa langsung hip abduction (ngangkang) nyambil minta kompresan ke mamah sebagai pertolongan pertama.

Mamah langsung sigap dong, tapi bukan mamah kalo nggak sambil ngedumel,

Dan ada satu kalimat lagi yang bener2 bikin aku lebih sakit

gini katanya "Disehat sehat ge da teu sehat, kudu sadar widi mah cac*t, widy mah beda jeung batur"


Next Verse 2....


Rabu, 15 Mei 2019

[Re-view serial podcast Disiplin Positif #1]

"Emang penting ya disiplin?"
"Yang penting pan selesai, disiplin tuh bikin kaku tauk!"


Zzzzz. Pernah gak denger pertanyaan atau pernyataan yang relevan kek diatas?

Akusih pen nanggapin hehe aja awalnya. Karna selain belum merasa expert perihal disiplin. Aku juga belum benar-benar disiplin. Hihi😂

Tapi, setelah beberapa hari kebelakang rajin denger  serial podcastnya pak Irfan Amalee aku jadi gatel pen reshare apa yang aku denger-- terlebih,cara belajarku memang dengan re-write apa yang kudenger dan apa yang kubaca.

Jadi, jan beranggapan aku sudah ahli dalam hal disiplin ya. I'm still learning by doing.

Oke. Kembali ke pertanyaan dan pernyataan diatas.

-----------------------------------------

Dari sebuah penelitian James collin beserta temannya menulis sebuah buku yang isinya "Mengapa perusahan-perusahan besar bisa sukses"
Setelah di teliti, hasilnya ialah bahwa perusahaan-perusahaan sukses tersebut memiliki 7 keunggulan, satu diantaranya ialah culture of disipline. (Irfan Amalee, 2019)

Ternyata, anggapan kita bahwa kreativitas itu segalanya--akan tetap 'nothing' kalo nggak disiplin.

Kang Irfan juga bilang, untuk menjadi 'created' bukan sekedar 'good' tapi juga mesti 'dicipline'.

So, ketika ditanya penting enggak. Jelas penting lah. Karna, disiplin itu jembatan dari kesuksesan.

Oke. Keluar dari pengalaman orang lain. Bahkan aku sendiri yang mengakui punya kekurangan 'bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu' kadang bumerang banget, ketika ternyata yang aku lakuin nggak teratur dan akhirnya semua yang dikerjain nggak selesai.

Tapi, ketika mulai membiasakan menulis daily activity di notes, aku sedikit meminimalisir ke-riweuhan aku menjadi lebih teratur dan finally bisa menyelesaikan satu persatu apa yang aku mulai (meski kadang pekerjaan itu nggak aku sukai).

Apa yang aku alamin itu menunjukkan kalo se-kreatif apapun aku dalam random pekerjaan. Nggak akan selesai dengan baik kalo aku nggak disiplin. Bahkan bisa saja aku membangun culture yang negatif yaitu 'asal selesai' tapi, nggak selesai dengan baik; nggak selesai dengan tepat waktu.

Iyaaaa oke yang penting selesai, tapi tidak akan ada empact atau feedback yang jelas setelahnya.  Karna yang dikejar 'yang penting selesai' bukan 'bagaimana proses agar selesai'.

Jadi, masih nanya disiplin itu penting ?

Selasa, 02 April 2019

Tujuh kali masuk ruang OPRASI ? gak takut?


So, kemarin-kemarin ada seorang temen yang nanya “Uwid, ngerasain tujuh kali oprasi gak serem masuk ruang ok terus?”

U have to know banget gengs. Jadi, justru dulu pas pertama kali aku masuk ruang OK pas pertama kali accident itu, aku lho yang ngebet minta segera di oprasi. Karna, dulu sih mikirnya udah dioprasi langsung bisa lulumpatan (read. Lari) lagi.

Oke skip karna, cerita itu udah aku ceritain kan. Nah, pas pertama masuk ruang oprasi itu, it’s not look like a scary place as i think gengs, gak sama sekali kek pilem pilem indonesa, yang pengap, mencekam, menegangkan, terus menakutkan. Karna yang aku rasain sih--pertama,dokter-dokter di ruang OK is often (red. karna gak semua ramah, hehe) menyambut ramah; mungkin itu salah satu strategi biar si pasien gak mendadak hipertensi atau biar lebih calm. Dan aku sendiri yang waktu itu polos, ‘B’ aja sih pas masuk ok. I just feel happy gitu, karna mikirnya pas keluar ruangan bisa lari-larian. Dimaklum lah ya masih usia anak es em pe.

Oke kedua, ruangan OK itu luas, terang dan gak mencekam seperti di pelem-pelem, sumpah. Terus pas proses anastesi, kita gak langsung disuntik bius, tapi sebelumnya diajak ngobrol dulu, biar nyaman dulu, terus abis itu dibarengin buat doa. Dan dengan etika pastinya, si dokter anastesi pasti bilang dulu “Neng, kita anastesi sekarang yaa, yuk doa bareng-bareng” dan di ketujuh oprasi yang aku alamin pasti semuanya kek gini dulu prosesnya. Gak akan langsung ambil tindakan semaunya, tapi they always bikin pasien nyaman dulu diruangan itu.

Finally, karna udah pernah masuk ke ruang OK pertama kali, maka OP yang kedua sampai yang ketujuh, aku kalem-kalem ajasih.

Tapi mesti, digarisbawahi yaa.. yang bikin air mata netes tuh bukan karna rasa takut, tapi yang aku rasain lebih ke setiap kali si blangkar udah diam diantara ruang tunggu  dan ruang OK. Pasti deh, mamah yang pertama kali netesin air mata nyambil doa, dan aku ikutan mewek karna yaaaaaa....

Ah please, in every situation, aku gak tega liat pipi mamah basah karna alasan apapun. Meski alasannya haru bahgia, pasti deh aku juga ikutan. Ah mungkin ini, yang kerap ngingetin kalo aku pernah tinggal di rahimnya. Jadi ya, udah sejiwa raga.

Okem. Khusus banget buat temen-temen pembaca yang mau menjalani oprasi, jangan khawatir masuk ruang OK yak. karna emang sih, ketakutan itu kadang hadir pada apa-apa yang belum kita alamin. Ujung-ujungnya, kita mati karna bayang-bayang kita. It’s sounds bad.

Pas masuknya mah gak akan se-menyeramkan itu kok, paling pas keluarnya sih semua bakal ngerasain sakit menurut definisi temen-temen sendiri. hehe

Etapi yaqueen deh. Kadang buat sembuh, kita mesti merasakan sakit dulu.
Udah ya, met malam. Selamat berjuang! Inget jangan jadi penghuni bumi yang nunggu mati aja^^


Kamis, 21 Maret 2019

The meaning of my life (Catatan perjalanan si Patah Tulang)


Katanya, setiap manusia pasti akan menemukan titik terpuruk dalam hidupnya. Lalu mereka akan menemukan titik-titik yang lainnya setelah mengalami keterpurukan itu; titik yang pertama yaitu titik ‘marah’ dimana kita gak menerima apa-apa yang menimpa kita, kita benci pada hal tersebut, hingga pada diri sendiri dan sebab terjadinya. Kedua yaitu titik ‘depresi’ dimana kita sudah merasa kehilangan tujuan hidup, gak ada semangat meneruskan perjalann hidup, hingga merasa tak memiliki arti untuk orang lain. Titik ketiga yaitu ‘negosiasi’ kita mulai bangkit tapi dengan banyak alasan, bukan karna menerima kenyataan tapi lebih kepada keras kepala dan melakukan banyak cara (negatif/positif )untuk meneruskan perjalanan, sampai kita sama sekali tak mendapatkan itu semua dan finally ketemu di titik keempat yaitu ‘ikhlas’, ialah keadaan dimana kita pada akhirnya menerima apa-apa yang menimpa kita, kita menyediakan hati yang lapang, prasangka yang baik pada Takdir yang Tuhan Tentukan, dan kemudian bisa meneruskan kembali perjalanan hidup.
Titik-titik tersebut akan terus berputar, tinggal kita yang menentukan mau duduk dititik mana, dan bagaimana agar supaya dapat menempuh titik Ikhlas lebih cepat.
Sebenarnya, titik utama yang akan mempertemukan kita dengan titik ikhlas tersebut, yaitu titik ‘terpuruk’.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku bukan lagi hanya’pernah’ mengalami titik  tersebut, tapi sering. Terhitung sejak sembilan tahun yang lalu, tepat pada tanggal 17 maret 2010.

Pada waktu itu, Allah dengan segala cerita yang masih Ia Rahasiakan, membuatkan alur bahwa aku harus mengalami ‘kecelakaan’. Yang kemudian menjadikan tulang kering dan tulang basahku mengalami fracture yang bisa disebut lumayan parah. Fracture yang  kemudian membuat aku harus melakukan oprasi pasang implant (pen) pada kaki kananku.

Itu adalah oprasi pertamaku, yang kukira oprasi itu hanya salah satu dari serangkaian pengobatan yang bisa membuatku lebih cepat bisa berjalan, namun nyatanya perkiraanku salah. Aku bahkan merasakan rasa sakit yang lebih dari sebelumnya. Oprasi yang ber-empact juga pada aktivitas harianku; karna semenjak itu, hidupku banyak membutuhkan kaki kanan orang lain. Bukan hanya mamah, tapi juga orang-orang sekitar. Oprasi yang membuat seluruh tubuhku kaku, mengharuskan aku hanya terlentang diatas kasur selama berhari-hari. Kemudian, setelah itu bukan hal mudah juga; aku mesti duduk di kursi roda selama berbulan bulan, membutuhkan tangan orang lain untuk sekedar menggeserkan kaki kananku, sampai akhirnya bisa bangkit, berdiri dan berjalan, meski harus melewati waku delapan bulan untuk dibantu skruk (tongkat) ketika berjalan. It’s not easy for me.

Selama itu, semangatku kerap naik turun, sempat ketika itu aku kufur pada apa yang Allah beri. Aku lupa pada pemberian Allah yang banyak kunikmati, aku hanya fokus pada apa yang belum mampu kulakukan. Aku pergi dari Allah, tapi aku malu, justru Allah semakin mendekatiku. Menghadirkan banyak manusia yang Ia gerakkan hatinya agar selalu ada untuk aku.

Belum selesai, belum mampu berjalan lancar, Allah uji lagi aku dengan infeksi pada area tulang. Sehingga, aku yang baru saja menikmati langkah awal mesti oprasi lagi (yang kedua) di tahun 2011.  Ini tak terlalu sulit, karna oprasi infeksi tak begitu ber-efect banyak pada aktivitas harianku. Aku menikmati keseharianku meski infeksi itu masih berbekas dan mengharuskan aku menjalani aktivitas harian dengan selalu didampingi kassa, sufratul, dan nacl, sampai pada akhirnya dokter menyarankan untuk removal implant (buka pen) sebagai solusi baik agar infeksi pada kaki menghilang terlebih melihat perkembangan pertumbuhan tulang yang baik, maka pada tahun 2012 aku oprasi lagi (yang ketiga) untuk lepas pen.

Pasca oprasi yang ketiga, aku bahagia bukan kepalang. Karna bisa merasakan berjalan dengan tanpa penyangga dalam tulang. Dan nyatanya aku mampu, aku selalu menikmati setiap jejak yang kupijak dengan kaki kananku yang baru.

Namun, ceritaku belum bisa kusimpulkan happy ending, nyatanya ujian hidup selalu tetap berlangsung. Dan yash, lagi-lagi Allah uji aku yang mesti melakukan oprasi lagi (yang keempat) pada tahun 2013 karna jatuh, jatuh yang pertama hanya membuat serpihan tulang keluar sendiri lewat luka infeksi itu; ini hanya oprasi kecil dan hanya dilakukan bebrapa menit saja, tapi tak lama dari itu aku jatuh lagi yang membuat tulang basahku (Fibula) sedikit bergeser dan mau tak mau harus oprasi untuk penggeseran tulang basah.

Aku yang waktu itu duduk di kelas 2 SMA, sangat begitu antusias untuk bisa masuk sekolah pasca oprasi yang keempat, namun belum jua aku melepas skruk pasca oprasi, Allah lagi lagi uji aku dengan jatuh lagi yang kesekian kalinya dan ini yang paling parah dimana aku jatuh sampai dua meter; yang kemudian membuat posisi tulangku back to the past. Finally, dengan sangat menyedihkan aku diharuskan pasang pen kembali (oprasi kelima).

Pada saat itu, bukan hanya aku yang terpuruk, tapi mamah jauh sangat tersiksa. Katanya, jika ia bisa bernegosiasi pada takdir ‘ia ingin meminta ia saja yang Allah uji lewat sakit’ tapi dalam hati, aku tak sepakat dengan doa itu. Mamah sudah cukup banyak mengalami ujian dalam hidup, bahkan ujian hidupku pun sudah include jadi ujian bagi mamah.

Selain itu, dokter yang merawatkupun kecewa karna aku tak benar-benar mampu menjaga apa yang sudah diperbaiki. Tapi, bukan hanya mereka; yang terberat adalah aku yang sulit berdamai dengan diriku sendiri yang terus menerus mengkambinghitamkan diri sendiri dengan segala macam kesalahan.

Ini menjadi episode tersulit juga dalam hidupku, lagi-lagi aku merasa kehilangan tujuan hidup, merasa tak berarti, tak berguna dan ingin hilang saja.

Tapi, Allah begitu sangat sayang padaku. Ia mengirimkan banyak manusia seperti mamah, saudara, dan orang-orang gila yang kemudian hingga saat ini dan selamanya kusebut ‘sahabat’. Mereka menjadi charger semangat aku, mereka adalah sebab aku tersenyum dan melanjutkan perjalanan hidupku.

Hingga Aku begitu sering menemui kata ‘syukur’ pada alur hidupku  ini, aku mulai memberikan esensi pada hidupku. Menjadi manusia yang bukan hanya ‘penunggu mati’ tapi juga manusia yang punya ‘banyak arti’.

Aku berusaha untuk mampu bahagia, membahagiakan dan berbagi kebahagiaan bagi orang lain. Maka dari itu aku memenuhi tugasku sebagai penghuni bumi dengan aktif di kegiatan kegiatan charity, aktivitas sosial, jadi volunteer, dan banyak hal. Hingga kata orang aku disebut manusia ‘seribu agenda’.

Namun bukan apa, aku hanya belajar menikmati apa yang kumiliki, bersyukur dengan apa yang ku mampu, dan menjadi manusia yang bukan hanya sekedar penunggu mati.

Hingga finally, suatu hari di tahun 2015 aku yang sudah mulai belajar magang di salah satu sekolah dasar yang juga tahun dimana aku masih semester 2, aku melakukan oprasi untuk removal impant yang kedua kali (oprasi keenam). Ini oprasi yang kupikir oprasi terakhir dalam hidupku.

Bahgia pada kala itu bener-bener can’t explain, aku menikmati setiap detik, menit, hari, pekan, bulan dan tahun-tahun dimana aku mampu melakukan berbagai aktivitas yang kucintai.
Aku melanjutkan perjalanan hidupku dengan penuh syukur, menjalani banyak macam agenda yang menjadikan aku bukan hanya seorang penghuni bumi, tapi seorang ‘penikmat hidup’. Karna, selama tahun tahun tersebut banyak pengalaman yang memberi aku pelajaran hidup.

Terlebih aku yang waktu itu memiliki kaki kanan yang lebih pendek dua senti meter dari kaki kiri mampu menjadikan titik kelemahan sebagai titik kelebihan. Sehingga, no one care dengan kekuranagn aku, mereka mencintaiku dengan apa-apa yang ku mampu.; dengan apa-apa yang ku syukuri.

Oke namun kukatakan sekali lagi, selama kita hidup nyatanya ujian akan selalu ada. Dan kali ini, lagi-lagi dan lagi aku yang Allah uji, aku merasakan ada yang berbeda dengan kaki kananku. Di tahun 2018 tepatnya, aku mulai merasakan ada keganjalan dimana aku merasa panggulku sakit setiap aku melakukan perjalanan jauh, kemudian aku yang keliru dengan tulang peluru kaki kanan yang posisinya tak sejajar, dan banyak hal yang yang kemudia menjadikan kekuatan kaki kanan aku berkurang; aku tiba-tiba terbatas jarak untuk berjalan karna sakit yang semakin hari semakin menjadi.
Segala macam terburuk sebelumnya sudah kupikirkan, termasuk dugaan harus ‘oprasi lagi’. Dan nyatanya memang iya, suatu hari di bulan desember 2018 satu hari setelah konsultasi dokter menyatakan aku mesti oprasi penggantian tulang peluru seluruhnya (Total Hip Replacement).

Ternyata, selama delapan tahun tulang peluruku memang disposisi dan aku menggunakannya tanpa sadar, hingga di tahun kedelapan setelah kecelakaan itu,tulang peluru kaki kananku rusak dan hampir membusuk; kalau hal tersebut ditemukan di tahun tahun yang akan datang bisa saja, hari ini aku hanya memiliki satu kaki. Tapi, Allah Maha Baik.

Oke, mendengar diagnosa dokter ketika itu membuat aku benar-benar sempat lupa definisi ‘ikhlas’.
Aku tiba tiba memutar kembali rekaman tahun-tahun sebelumnya,  namun yang pertama kali kuputar saat itu ialah episode-episode terpuruk. Sampai aku sempat berpikir ‘gak usah oprasi lah’ kalo oprasi aku mau apa? Mau nyusahin mamah lagi? Diam dirumah lagi? Merepotkan banyak orang lagi? Apalagi coba?

Aku bertemu lagi titik terpuruk, tapi Alhamdulillah kali ini aku lebih cepat menemukan titik ikhlas. Aku sadar, aku gak akan sampai dititik ini kalau aku gak kuat. Kalau Allah tidak menguatkanku.
Bukankah, enam kali oprasi sebelumnyapun aku mendapati banyak hikmah dan pelajaran berharga, kenapa tidak untuk meraih predikat sabar, aku mesti melewati ujian ini?

Aku sadar, aku bahkan tak bisa bernegosiasi dengan apa yang Allah tetapkan. Tapi aku masih mampu mengikhtiarkan apa-apa yang belum ku capai bukan?
dan, oprasi penggantian tulang peluru ini, bisa kusebut salah satu ikhtiarku bukan?

Dan akhirnya, Allah melapangkan hatiku untuk menerima segala macam kemungkinan yang belum kutahu alur selanjutnya.

Hingga Alhamdulillah, februari hari keenam 2019 kemarin,dr. Husoso Dewo Adi, SpOT, Spine.(yang juga dokter yang sama yang mengoprasiku sebelum-sebelumnya) Replace my HIP. Dan sekarang, aku manusia dengan HIP kanan palsu bersyukur, karna Allah masih beri kesempatan aku untuk dapat melanjutkan perjalanan hidup.

Finally, dibanyak episode yang aku lalui selama ini, aku bukan hanya bertemu dengan banyak titik terpuruk, tapi aku juga bertemu dengan lebih banyak titik ikhlas dalam hidup.

Jumat, 22 Februari 2019

Mau Apalagi?


Toh, hati kita Allah yang pegang kan? Dan sekarang, hati kamu lebih Allah condongkan ke dia, aku bisa apa? (A)

Jatuh cinta itu fitrah. Kita tak bisa menyalahi atau menyalahkan (si) apapun. Kita hanya perlu lebih hati-hati lagi bagaimana mestinya hati kita lebih tertata.

Patah hati, juga fitrah kan? Manusiawi. Tapi tidak untuk terus berlarut-larut. Apasih yang kita punya? Apa yang bisa kita kuasai?

Bukankah kedipan mata saja Allah yang Maha Menggerakkanya?
Apalagi soal perasaan. Allah yang sebenarnya punya andil yang kuat untuk meneguhkan itu. Kita hanya diberi sedikit ikhtiar untuk berusaha menjadi dan mencari yang terbaik. Tapi pada ujungnya Allah tetap Penentu (si) apa itu yang ‘terbaik’.

Kehilangan seseorang sebenarnya tak akan se-mengecewakan dan se-menyedihkan ini, jika kita tidak terlalu ‘merasa’ memiliki.

Udah! semuanya kan milik Allah. Hati kita, hati dia, pun hati dianya-dia.
Udah doa?
Udah ikhtiar?
Ya udah, mau apalagi?

Jumat, 28 Desember 2018

Teman tak nyaman


Ketika bertemu dengan orang-orang dalam perjalanan, ada yang mesti kita tekankan; ialah akan kita perankan sebagai apa orang tersebut; apakah sebagai rekan kerja, rekan semisi, atau rekan dalam segala hal.

Maksudku, rekan hidup.

Begitu memang. Kita pasti akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Tapi kita kerap lengah atas apa yang sebenarnya kita cari, atau bahkan kita sendiri tidak paham apa yang tengah kita cari.

Pasti semua orang pernah mengalami ‘kelengahan’. Termasuk dalam mendefinisikan peran seseorang dalam hidup kita.

Pun aku. Yang kalang kabut membahas peranmu dalam hidupku. Yang hadir kemudian aku kagumi, tiba-tiba saling mengenal, dekat dan menjadi karib. 

ini yang kusebut, 'Teman tak nyaman'.


Sebuah 'nyali'


Pagi itu, kamu hanya menampakkan senyum sinismu. Tertawamu tak sedikitpun menyiratkan keceriaan. Aku tau kamu tengah terpuruk dengan dirimu sendiri. Tapi kamu berusaha menyembunyikannya dari banyak manusia. Mungkin ada beberapa juga yang menyadarinya, termasuk aku.

Memang bukan satu-satunya, tapi menajdi salah satu yang memahamimu adalah bumerang bagi diriku sendiri. Bagaimana tidak?

Aku takut terlalu berlebihan. Menjadi teman baik menurutku tak nyaman, jika posisinya aku perempuan dan kamu laki-laki. Dan diantara kita sudah ada perasaan lain selain pertemanan.

Sesekali kau juga menyalahkan diriku sendiri. Kenapa harus meletakkan perasaan yang kurang tepat pada teman sendiri. Menjadi bumerang bagi diriku sendiri.

Ah, aku keliru lagi dan lagi. Aku jadi merasa serba salah. Terlebih saat kamu berada diposisi seperti ini. Sesederhana menghiburmu adalah sebuah kekeliruan, jika itu terjadi padaku.

Ah aku bisa saja dengan mudah terang-terangan menyatakan mengekspresikan perasaanku. Tapi banyak hal yang belum ku persiapkan. Semacam kehilangan seorang teman, dan sebuah penolakan.
Aku si pengabdi arti pertemanan, kehilangan satu teman bagiku kehilangan banyak harta. Terlebih teman yang ku maksud adalah kamu. Orang yang... ah sudahalah. Aku tak ingin mendefinisikan mu lebih jauh.

Nyaliku hanya sebatas mendoakamu, kamu yang kerap menjadi alasan banyak orang tertawa bahagia, mudah-mudahan Allah senantiasa meberikan kebahagaiaan padamu.
 Jumat pagi, desember hari ke 28

Selasa, 20 November 2018

[Apa kabar manusia SERIBU AGENDA?]

[Apa kabar manusia SERIBU AGENDA?]
.
Tetiba beberapa orang bilang kalo aku "manusia dengan seribu agenda" - hiperbolis banget yak?

Herannya juga, tau aku sibuk, mereka masii aja percaya buat nyibukkin aku. Dan aku oon- nya gak pernah bilang "maaf, gak bisa" malah seringnya "eimm... iya, oke siap" ya kalopun sesekali nolak paling aku menghindar tanpa menjawab.

Lah iya, wong akutu orang yang susah banget menolak permohonan tolong orang lain. Terlebih aku bisa melakukannya, akuty kek sering ngerasa "ah oke ada kok waktu, bisa kok nyempetin, gampanglah kerjain disela-sela waktu senggang" dan berbagai macam alasan serupa lainnya.

Namun pada akhirnya, ketika beberapa agenda yang aku iya-in mesti aku kerjain diwaktu yang bersamaan; disanalah aku ngerasa sangat bersalah.

Terus.... ngapain kamu selalu pengen sibuk?

Kata siapa pengen? Pengenyamah menikmati daily activity as ordinary ppl lainnnya. Ah tapi dugaan kita suka mlenceng kan? Kata siapa hidup mereka oke oke aja?

Lah, orang kalian pun anggap aku oke-oke aja. Iyakan?
Padahalmah,
Oke banget. Haha

Oke terus kenapa intinya kamu pen sesibuk itu wid? Enggak kok gak pengen. Cuman...

wht i felt before. Aku dulu sebelum bisa jalan pernah mengalami menyusahkan orang dengan tidak bisa melakukan banyak hal selama 1 tahunan dan itu bener2 menyiksa.

Gak bisa jalan, gak bisa duduk dengan nyaman, bahkan untuk menggerakkan kaki saja butuh bantuan tangan. Ini masa-masa yang menyiksa.

Lebih dari itu bayangin selama 5 tahun melakukan oprasi 6 kali. Cuman karna luka yang bandel dan jatoh berkali-kali.

Kata siapa hidup aku mudah sebelumnya?
Aku ngalamin ini semua. Dan bukan aku yang ngerasa susah tapi orang-orang sekitar aku pun, aku susahin.


Jadi, bukan tanpa alasan kenapa aku mengikrarkan diri mesti memanfaatkan apa yang aku bisa.

Mesti gak bisa lari seperti yang lain,  kamu bisa jalan wid. Aku terus meyakinkan diri sendiri dan mengharuskan, kalau aku mesti berfaedah. Dalam hal apapun.

Semua yang baca ini sebagian mungkin nyinyir. Alay banget sii atau apalah.

It's not easy for me gais. Buat bisa se-oke ini aku pernah merasa mati ketika hidup. Dan salah satu alasan bagaimana aku bisa hidup lagi, ialah support teman-teman terbaik.

Yeay! Kenapa aku termasuk orang yang mempriority-kan "arti pertemanan" ya karna mereka da best support sistem dalam hidup aku selain mamah dan keluarga.
-------------------------------------
Jadi, Apa kabar manusia seribu agenda?
Belum kok, belum nyampe seribu. Hehe


Tenang.. masih bisa itungan tangan kok. Dan pastinya otw  focus pemanfaatan sumber daya diri sendiri. Anfauhum linnas tetep, tapi cinta diri sendiri juga mesti!

Minggu, 28 Oktober 2018

Menjeda Hati

Sementara ingin sekali menjeda banyak hal. Bukan hanya perihal waktu. Tapi menjeda segala macam perasaan yang menyakiti diri sendiri.

Menjeda hati yang memungkiri, hati yang mencaci, hati yang membenci, hati yang dikecewai, hati diri sendiri.

Sesekali saja. Aku hanya menggunakan hati untuk keperluan ibadahku saja. Tidak untuk memberi makan egoku.

Aku tak ingin egoku kenyang dengan segala macam perasaan yang kian menjadi bumerang dalam hati.

Kataku, aku ingin cukup saja memberi hati pada saat saat tertentu.

Ini bukan persoalan tak ingin manusiawi. Tapi hati, memang meski hati-hati.

Jadi, Jeda Hatimu sekali-kali.

Rabu, 24 Oktober 2018

Ridhakah Allah?

Aku mulai keliru dengan Istilah tak asing yang dituturkan Buya Hamka, yang katanya "Kita pasti akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari"
.
.
Waktu ke waktu berjalan, dan benar adanya disetiap perjalanan,aku berpapasan dengan jiwa-jiwa yang aku cari. Dengan orang orang yang aku cari,
.
.
Pagi berpapasan dengan petang, senja berpapasan dengan jingga, malam berpapasan dengan siang, jiwa-jiwa kita saling berpapasan.
Dan aku semakin mengimani istilah itu.
.
.
Tapi aku lupa, bagaimana ridha Allah hadir diantara jiwa jiwa yang berpapasan itu.
Apakah hanya senang dan haruku yang membuat aku semakin yakin bahwa itu orang yang aku cari,

Aku mulai keliru, bahwa Ridha Allah perlu hadir untuk memastikan semuanya, ridha Allah yang akan juga mempertemukan kita dengan orang - orang yang bertujuan sama, orang yang bertransit yang sama, orang-orang yang sama-sama menujuNya.
.
.
Sementara hati, kerap melupakan hal krusial itu, aku lebih sibuk dan asal memastikan 'dia yang aku cari, mereka yang aku cari' padahal Allah belum tentu meridhai.
.
.
Hingga sampai pada kesimpulan bahwa "Allah bukan hanya akan mempertemukan kita dengan apa-apa yang kita cari, tapi Allah pasti akan mempertemukan kita dengan apa apa yang DIA ridhai"

Allahu, ridhai kami.

Minggu, 21 Oktober 2018

[MENJADI ORANG LAIN?]


Ini nih, syukur yang kerap menjadi kufur.  Berharap menjadi diri orang lain.

Kita yang kadang merasa maha benar di dunia maya, jadi komentator baik bagi kehidupan orang lain, hingga sampai kita ingin jadi orang itu, ingin mendapatkan apa yang orang itu dapat, ingin menjadi diri orang lain, ingin menjadi dia, kaya dia, inginkan dia*eh

Kemudian hingga sebuah lagu dari Tulus seakan menjadi pendukung kegalauan diri yang ingin bertukar jiwa,

"Coba sehari sajaaaaaaa a, satu hari saja kau jaaadii diiiriku"

Padahal definisinya bukan seperti yang kita duga.

Kita gak akan pernah sadar, *eim maksudnya mungkin kita belum menyadari, banyak orang yang menginginkan kehidupan kita, banyak orang yang mungkin juga iri pada kita.

Sampai pada kesimpulannya, jikapun kita jadi seperti mereka atau mereka jadi kita; belum tentu masing-masing dari kita semua bahagia.

Jadi, syukuri harimu temans^^

Selamat Hari Senin,
Dari _Jingga_ yang menyayangimu 💕

Kamis, 18 Oktober 2018

Menjadi '"asing"

Ini yang ku khawatirkan, "menjadi asing"

Kau yang biasa menyapa, tak bertanya
Kau yang biasa bersenda gurau, tak berani menimpal,

Tiba-tiba, tanpa saling menjelaskan kita sama-sama merasa 'asing'.
Entah aku dengan perasaanku saja, atau kamu memang tengah sibuk mengurusi hati yang baru.

Persaanmu tak berkawan (lagi) denganku. Ah bukankah, 'bukan lagi sebuah pertemanan ketika satu atau keduanya punya perasaan yang lain.'

Dan mungkin, aku salah satu atau satu-satunya yang dimaksud.
Aku yang menjadi sebab, bagaimana perasaan diantara kita tak lagi 'berkawan',

Maafkan atas ketidaknyamana ini,

Rabu, 17 Oktober 2018

Bukan cerita dalam FTV

It's not a short story wht u mind wid, gak bisa kamu atur alurnya.

Ini jelas-jelas bukan adegan dalam ftv-ftv. Yang sebenernya seseorang yang dimaksud itu adalah kamu. Gak se-drama itu wid.

Ayolah! Bangunnnn! Duniamu masih luas, kamu berhak menikmati hidupmu!

Pengharapan pada Allah takkan pernah mengecewakanmu, perbaiki niatmu!

KELIRU [LAGI]

[Masih keliru]

Aku bahkan belum faham faham dengan diriku sendiri, yang berkali-kali keliru perihal 'perasaan'. Cukup lelah memang.

Padahal sedari awal sudah kuantisipasi agar tak melabuhkan hati pada siapapun kecuali Allah telah izinkan, tapi dasar aku, simanusia yang ngeyyel dengan segala praduga perasaannya.

Terus menerus, meluaskan harapan menyempitkan hati. Hingga harapku tak punya rumah lagi untuk berpulang.

Aku memang sangat melankolis untuk beberapa hal, maksudku banyak hal yang bersangkutan dengan 'perasaan'.

Apalagi ini,
Lagi-lagi 'keliru'

Senin, 01 Oktober 2018

Cerita Pribadi ( Narasi Diri )

Berangkat, dari sebuah nadzar bahwa ‘saya siap nikah kalo mamah dah nikah (lagi)’, saya mulai khawatir karena hingga menjelang hari pernikahan mamah, kisi-kisi yang mau taaruf nggak ada wkwkwkwk, terus, cinta lama kandas ditengah jalan,eak (ituma jaman jahiliyah si), kemudian saya rasa kok ikhtiar saya stuck, dan dugaan (ngarep) saya kerap melenceng, hingga membuat saya memutuskan untuk ikhtiar dengan cara ini.

Jadi, kemarin-kemarin saya bersikeras bilang ke diri saya, kalo saya harus menyelesaikan narasi taaruf versi saya ini. Mau tidak mau, sesiapa yang sudah membuka ini,harus membacanya hingga akhir, kan gak tau yak siapa tau cocok. Hihi.

Nama saya Nurwidya Yuliastini (atau udah tauk?), kebanyakan dari mereka panggil widy, uwid,  nurwid, dan tak jarang dipanggil  widy manis. Lahir, di Garut hari Senin pada tanggal 29 Juli 1996. am sundanese original, meskipun bahasa yang sering digunakan bahasa campuran. Golongan darah saya AB, bolehlah mangga di browsing karakter saya menurut golongan darah.

Untuk berat badan entah kenapa sedari dulu badan saya kurang besar; alias ketcil, sekitar 45 kiloan lah kalo naik sekilo; kalo turun paling sekilo gak akan jauh, dan sistemnya pasti ke gitu. Ah iya, am moeslim yang sedang ikhtiar jadi shalehah. Doakan yak!

Oke, mulai menginformasikan dari mana awal saya belajar di sebuah ruangan bernama kelas. Hihi.
Pertama saya sekolah dasar di SDN Mangkurayat 5 keluar tahun 2008, mangku? ra'yat?beurat? Nggak ko, kalo dibandingin beban hidup saya. Maaf, ini skip.

Setelah mendapati rangking yang naik turun akhirnya saya bisa masuk ke SMPN 2 Cilawu dan mengakhiri proses belajar saya di tahun 2011. Masa SMP yang kurang menyenangkan; mendapati kejadian yang membekas hingga sekarang yaitu accident di Kamis, 17 Maret 2010 lalu, yang membuat tibia fibula saya mengalami fracture yag sangat lumayan berat; semua itu tak membuat saya berhenti untuk lanjut, sampai akhirnya saya masuk ke SMAN 11 Garut dan berhasil LULUS di tahun 2014.

Itupun dengan sangat uyuhan karna cuti 4 bulan untuk re-surgery pemasangan implant di kaki yang kedua setelah empat kali Surgery karna infeksi dan labuhan wae. But tapi saya tetap istiqomah dengan ambisi harus kuliah!, harus belajar dan bersikeras ikut snmptn PLB dan SastraInggris, dan gila juga duadaunaya gagal, SBMPTN pun sama, saya ggal eugeun. Sampai akhirnya saya tersesat (ke jalan yang benar) kuliah di STAIDAM GARUT denagn ambil jurusan PAI, dan lulus tahun ini. Masih anget. Baru kemarin kemarin.

Oke, tentang saya. Untuk kelebihan Kaliian boleh menghubungi pihak Bacil lopers, Aya NH, Geng Kampus, Epa Dewi A, Temen2 yang udah lama senafas dengan saya di beberapa komunitas, atau kamu uga tauk? iya kumaha kamu we.

Untuk kekurangan, apa ya ? banyak eim. Tapi saya mengakuinya kok. Saya orangnya kerap tergesa-gesa, gurung gusuh, harus banget di rem kalo pa-apa, egois, terus kadang poligami pekerjaan yang bikin gak fokus dan gak selsai semua pekerjaan. makannya saya butuh kamu. Untuk hal fisik saya gak mau kufur sama nikmat yang Allah kasih, InsyaAllah gak ada kekurangan sedikitpun kecuali dari diri saya sendiri.

Ah iya, perihal kesukaan, warna kesukaan semua yang bernuansakan hijau, latte dan dark. Makanan favorite banyak eum, saya suka semua sayuran kecuali pare alias paria, tapi lagi belajar buat sukak. Daging mah suka bagian bagian yang bnyak tulangnya, dan gak suka pakai bgt cungur. Ah iya saya sebenernya lebih ke ceker, kepala ayam lopers sih.  And eim, Saya suka coffee, paling keren sih espresso, tapi minimalnya dapat segelas Mocchacino juga madep, saya suka buble drink nya si emang yang deket ramayana, gak tau kenapa, tapi sukak we.

Hobbi, banyak eim mulai nyanyi, masak, ngasuh, bercerita, gambar, dan eim kalo baca nulis mah kewajiban itumah bukan Cuma hobi. terus seseurian paling, tapi setelahnya istighfar kok.

Ah iya kegiatan sehari-hari,biasanyeu gegeroh, ke sekul belajar jadi guru tapi masih tukang ngajar si belum jadi guru, terus lanjut ngantor di Aku Bisa Ngaji eh sebenrnya ngjaga kantor doang si, sambil main, kalo gak ngantor ya ngeBimbel, atau kalo gak juga ya agenda lain, atau jalan-jalan dan semacamnya.

Nah ini, kalo diluar rumah  saya pernah aktif di IPMAKA shs 11 Garut, English Club SHS 11 Garut, terus Ikatan Remaja Mesjid Alfurqan hingga now sih meski dah expayeur, terus pernah dan masih aktif sama barudak IMM til now, volunteer di lazisMU,sukak ngamen di PNG, Suka abring-bringan sama barudak AKU Bisa Ngaji.

Mulai ke hal yang lebih serius eak, Visi Misi saya agak seukrit sebenernya kalo buat ditulis disini, intinya saya bakal share kalo si pembaca tertarik setelah baca ini, jadi nanti aku japriin lah yak.  Perihal keluarga, Ayah Saya Ahmad Permana, Ibu saya Entin Supartini, mereka sudah berpisah semenjak saya lahir, untuk hal ini juga lebih lanjut dibahas kelak kalo udah tahap serius yak. Hahaha. But hingga sekarang saya hidup bahagia sama mamah, dan kadang berkabar dengan bapak. Kalem, nanti kamu dikenalin kok ke mereka. Atau ada yang sudah kenal salah satunya?

Saya anak ketiga (bungsu) kedua kaka saya udah menikah, yang satu di bandung, satu lagi disini dan balad guntreng sebenernyamah. Saya sangat dekat dengan keluarga terlebih bi Dijah dan Ema Ara yang semenjak 2010, sering saya susahin sebagai pengganti mamah kalo kagak ada di home. Mereka yang jagain saya anu ogoan,dan sekarangpun kalo apa-apa yang pertama saya ingat mamah, bibi, ema. Mereka pokonyamah!

Kriteria calon pasangan? Gak muluk muluk sumpahna. Yang penting sholeh- kalo ganteng nya pasti kan soleh, pinter? Asal cerdas welah, wios kirang pinter ge. Wkkkwkw. Kembali ke awal sih. Yang penting soleh dan nyambung diajak ngobrol!
kan gak mungkin ketika saya ngbrol panjang lebar ngakak so hard atau curhat, dia cuman jawab‘hemmmm’ atau ‘hehe’, ahhhh nooo, gak bisa!

Terus, sebernya dari dulu sih, kalo bisa nawar mah sama Takdir Allah, pengen banget nikah sama temen, maksudnya yang udah tau saya gimana terus udah senafas, udah hapal keburukan masing2, tapi kalakah temen saya udah banyak yang mendahului, haha. Tapi kalem sih masi banyak. Mudah-mudahan ya lur, esok lusa “Teman tapi Menikah” bukan Cuma isu, kamu geura ka rumah atuh! Becanda si, mon maap. Bebas, intinya yang soleh dan nyambung!

Rencana setelah menikah ? belajar jadi istri taat sama suami, terus jalalnin visi misi yang pada tahap taaruf kita satu jalur-in road map kita,

Terus intinya identitas saya yang lagi belajar jadi seorang guru mah gakbisa diganggu gugat, kalopun harus jadi Ibu Penuh Waktu- saya ajak suami bangun Rumah Belajar Jingga yang udah di roadmap-in sedari dulu.aamiin. kamu dukung ya!

Pisah rumah? Jangan kerja? Bikin usaha bareng?  saya sepakat suami. Pokonamah kumaha aa we!

Tapi, saya yakin pokonamah sama Q.S Annur ayat 26 and   finally, i say that “Kita pasti akan dipertemukan, dengan apa-apa yang kita cari”

boleh balas via japri di wassap 0895355205150

Rabu, 19 September 2018

Menjadi 'aku'

"Aku bisa saja menganggap ia tak ada. Tapi ku tak pernah bisa melakukannya. Bukan tak bisa, maksudku aku hanya tak ingin"
Kehadiran 'bapak', salah satunya.

Aku bahkan malas untuk membahas hal seperti ini. Tapi keadaanku terus menyinggung hal-hal serupa.

Kurasa, menjadi 'aku' bukanlah sebuah pilihan. Lahir dengan tanpa seorang ayah, dididik dan dibesarkan hanya dengan kedua tangan seseorang yang takzim dipanggil 'mamah'.

Menjadi 'aku' bukanlah sebuah pilihan, duduk di deretan nama Kartu keluarga dengan nama Ayah yang bukan sebenarnya. Ijazah dengan nama 'ayah' orang lain.

Yang terberat, menjadi 'aku' adalah mendapat setiap restu hanya dari seorang 'ibu' saja.

Bukan menyesal. Aku hanya sedang jujur dengan diriku sendiri. Bahwa menjadi 'aku' bukanlah sebuah pilihan.
Kemudian,

Kelak, kamu akan menikah. Lantas wali nikahmu akan siapa?

Hal-hal semacam ini pun menjadi krusial dalam pikiran.
Apa mesti bohong itu perpanjang masa aktifnya?
Apa hal ini serupa berbohong seumur hidup?


Lantas, bagaimana bisa aku memilih menjadi 'aku' yang lain?

Selasa, 10 Juli 2018

Masihkah atau Sudah?


Masih membereskan undangan, tiba-tiba ponselku bergetar, sebuah nama yang tertulis di layar ponsel mebuatku terdiam deg-degan. Ada apa dia menelponku?.

“Afwan akhi, ana mau tanya sesuatu boleh?”

“Iya, silahkan?”

“Apa antum sedang taaruf dengan seorang akhwat?”

Hatiku tersentak seolah petir di siang bolong menyambarku, rasanya langit runtuh tepat diatas kepalaku.

Kenapa pertanyaan ini keluar dari mulutnya sekarang ? sedangkan kenyataan akan akan mengecewakannya. Aku bingung harus menjawab apa, mengapa perempuan ini mengeluarkan pertanyaan yang sudah terlambat untuk dipertanyakan?

“Eu..eu afwan, ana tidak bisa menjawabnya”

(Story Of Haikal – Setia Furqan Kh)
***
Asma menatap dalam-dalam layar handphonenya, melihat video percakapan sort movie itu, seketika hati Asma tersentak. Apa mesti ia melayangkan pertanyaan yang sama seperti akhwat dalam film tersebut?. Asma terdiam. Ia terus memainkan scroll handphone-nya, mencari tau kabar Hafwan.

Namun tak satupun media sosial yang ia ketahui perihal dia. Sudah lama, mereka tak ‘lagi’ bersua di media sosial manapun.

Ia terus mengetik ulang ‘hafwan kafil Halim’ di layar handphone yang sedari tadi masih dalam genggamannya.

“Aduh asma, wake up. Bukankah setelah dulu kamu bertemu Andi, semua kontak Hafwan kamu hapus?” ia ketus pada dirinya sendiri, penuh sesal. Kedua alisnya mengernyit, bibirnya mengecil iaterus menggurutu. Tak seorangpun yang menghiraukan. Pantas saja, bangku-bangku yang berada disekitarnya ternyata kosong tak terisi. Disana hanya ada ia yang duduk sendiri, dan dua orang ibu muda yang tengah makan mie ayam dibawah pohon. Jadi, tak ada yang tau bagaimana Asma begitu kesal pada dirinya sendiri.

Asma yang merasa kesal, ia menutup layar handphone. Lalu, berusaha memperbaiki suasanan hati dengan memasang headseat dan memainkan playlist Subi –Ina Dua munsyid Favoritenya.
Namun, tetap saja. Meski ia tengah bersama playlist yang ia dengarkan, ia masih tetap diganggu dengan bayang-bayang Hafwan.

“Aku kok sebodoh itu ya dulu, hanya karena Andi, aku hapus semua kontaknya. Padahal dulu ia berusaha mencari kontakku, sampai minta sendiri sama Tari” gerutunya dalam hati.
Tiba-tiba dering notif masuk ke handphonenya, didapatinya undangan pernikahan dari temannya Hafwan. Ini sangat relevan.

Ada perasaan bahagia seketika saat itu, Asma merasa Allah sedikit memberi petunjuk pada perasaannya, meski ini tersirat, ia merasa bahwa ini berita baik untuknya.

“Mas Soleh, kira-kira orang Solo akan hadirkah?” tak sadar ia mengetik sebuah pertanyaan untuk Mas Sholeh di sebuah ruang Chat Whatsapp.

Tanpa berpikir panjang Mas Soleh tau siapa yang dimaksud oleh Asma.
“InsyaAllah ada”

Hati Asma seketika berbunga-bunga, deg-degan dulu yang lama tak pernah ia rasakan muncul lagi, ia merasakaan lagi deg-degan pada kali pertama ia bertemu hafwan dulu percis seperti saat ia mendengar bahwa ia akan bertemu Hafwan dipernikahan Mas Soleh.

Belum jua matahari turun, ia sudah terburu-buru beranjak membereskan buku yang lama tergeletak disampingnya. Ia melepas kedua headseatnya sambil kemudian beranjak meninggalkan bangku taman tengah kota itu.
***
“Nyatanya, apa –apa ang terbaik tak pernah ada dalam takaran manusia”
(Kurniawan Gunadi)

Dulu, ia pernah mengundurkan diri dari memantaskan diri untuk hafwan, hanya karna keluarganya kalangan hafidz-hafidzah. Sampai ia bertemu dengan Andi dan dan berpikir bahwa semuanya harus berubah. Ia merasa bahagia dan memutuskan untuk menjalankan kisah bersama Andi.

Namun nyatanya, tak seperti itu, Allah berkehendak lain, Andi bukan yang terbaik untuk Asma. Asma jatuh dan terpuruk hingga dua tahun because of Andi. Ia terjebak oleh perasaanya sendiri.
Perasaan cinta yang bukan lagi sedamai ketika ia mencintai Hafwan.  Dulu ketika ia menyimpan hati Kepada Hafwan, ia merasa Allah selalu hadir didekatnya. Namun jauh berbeda ketika bersama Andi, yang ia rasakan Andi adalah segalanya, ia benar-benar masuk zona jahiliyah selama itu.

Dan sekarang, setelah dua tahun berlalu luka yang Andi beri untuk Asma, Asma merasa ia mesti sembuh.

Karena bukankah obat patah hati adalah hat iyang baru?

Entah hati siapa yang akan menyembuhkannya itu, Tapi yang Asma mau, hati seseorang yang hatinya untuk Allah, dan berani menjatuhkan  hati padanya Karena Al;lah pula.
***
“Barakallahulaka wajama’a bainakuma fii khair,Mas Soleh....” langkahnya tertahan agak lama di Mas Soleh, ia lupa ada mempelai istri disampingnya, tapi ia terganggu denagn pertanyaan yang sebenarnya sangat malu ia pertanyakan, namun belum sampai ia bertanya, Mas Soleh mendahului,

“Mbak, dia gak datang, saya sudah bilang bahwa Mbak menanyakan kabarnya, tapi dia gak jawab apapun”

“Oh, gak papa, gak papa kok mas, saya gak begitu menghiraukan” Asma sedikit alibi dengan perasaanya.

Hidangan dari resepsi itu, tak ada satupun yang menggugah selera makannya, Asma sedang merasa tidak baik-baik saja. Ia malah terus mengocek-ngocek sedotan air minumnya, dengan tatapan kosong.

“Ma, Asma! Dimakan ma!” Tari yang sedari tadi bingung dengan tingkah Asma, menegur dengan menepuk pundak Asma.

“Eh, eh iya Tar, bentar”

“Mas Hafwan, Ma?”

“Eung... nggak kok, aku cuman udah kenyang, tadi lupa harusnya aku gak ambil nasi”

Tari merasa heran degan tingkah Asma, yang memang sangat aneh, ia ingin bertanya, namun ia paham betul bagaimana Asma, jika ia mau, ia akan menceritakan apa masalahnya tanpa ia tanya. Maka ketika itu, Tari memilih diam dan mengrampungkan makanannya.
Sedang Asma, yang masih dengan segelas air dan satu porsi makanan yang ia pajang di kursi sebelahnya, masih dengan rasa yang sesak.

“Apakah, Mas Hafwan sudah tak lagi ingin tau apa-apa  tentang aku?” tanyanya keras dalam hati.
***
“Ingat Ma, kata Bang Kugu juga apa-apa yang terbaik tak pernah ada dalam takaran manusia!”