Rabu, 15 Mei 2019

[Re-view serial podcast Disiplin Positif #1]

"Emang penting ya disiplin?"
"Yang penting pan selesai, disiplin tuh bikin kaku tauk!"


Zzzzz. Pernah gak denger pertanyaan atau pernyataan yang relevan kek diatas?

Akusih pen nanggapin hehe aja awalnya. Karna selain belum merasa expert perihal disiplin. Aku juga belum benar-benar disiplin. Hihi😂

Tapi, setelah beberapa hari kebelakang rajin denger  serial podcastnya pak Irfan Amalee aku jadi gatel pen reshare apa yang aku denger-- terlebih,cara belajarku memang dengan re-write apa yang kudenger dan apa yang kubaca.

Jadi, jan beranggapan aku sudah ahli dalam hal disiplin ya. I'm still learning by doing.

Oke. Kembali ke pertanyaan dan pernyataan diatas.

-----------------------------------------

Dari sebuah penelitian James collin beserta temannya menulis sebuah buku yang isinya "Mengapa perusahan-perusahan besar bisa sukses"
Setelah di teliti, hasilnya ialah bahwa perusahaan-perusahaan sukses tersebut memiliki 7 keunggulan, satu diantaranya ialah culture of disipline. (Irfan Amalee, 2019)

Ternyata, anggapan kita bahwa kreativitas itu segalanya--akan tetap 'nothing' kalo nggak disiplin.

Kang Irfan juga bilang, untuk menjadi 'created' bukan sekedar 'good' tapi juga mesti 'dicipline'.

So, ketika ditanya penting enggak. Jelas penting lah. Karna, disiplin itu jembatan dari kesuksesan.

Oke. Keluar dari pengalaman orang lain. Bahkan aku sendiri yang mengakui punya kekurangan 'bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu' kadang bumerang banget, ketika ternyata yang aku lakuin nggak teratur dan akhirnya semua yang dikerjain nggak selesai.

Tapi, ketika mulai membiasakan menulis daily activity di notes, aku sedikit meminimalisir ke-riweuhan aku menjadi lebih teratur dan finally bisa menyelesaikan satu persatu apa yang aku mulai (meski kadang pekerjaan itu nggak aku sukai).

Apa yang aku alamin itu menunjukkan kalo se-kreatif apapun aku dalam random pekerjaan. Nggak akan selesai dengan baik kalo aku nggak disiplin. Bahkan bisa saja aku membangun culture yang negatif yaitu 'asal selesai' tapi, nggak selesai dengan baik; nggak selesai dengan tepat waktu.

Iyaaaa oke yang penting selesai, tapi tidak akan ada empact atau feedback yang jelas setelahnya.  Karna yang dikejar 'yang penting selesai' bukan 'bagaimana proses agar selesai'.

Jadi, masih nanya disiplin itu penting ?

Selasa, 02 April 2019

Tujuh kali masuk ruang OPRASI ? gak takut?


So, kemarin-kemarin ada seorang temen yang nanya “Uwid, ngerasain tujuh kali oprasi gak serem masuk ruang ok terus?”

U have to know banget gengs. Jadi, justru dulu pas pertama kali aku masuk ruang OK pas pertama kali accident itu, aku lho yang ngebet minta segera di oprasi. Karna, dulu sih mikirnya udah dioprasi langsung bisa lulumpatan (read. Lari) lagi.

Oke skip karna, cerita itu udah aku ceritain kan. Nah, pas pertama masuk ruang oprasi itu, it’s not look like a scary place as i think gengs, gak sama sekali kek pilem pilem indonesa, yang pengap, mencekam, menegangkan, terus menakutkan. Karna yang aku rasain sih--pertama,dokter-dokter di ruang OK is often (red. karna gak semua ramah, hehe) menyambut ramah; mungkin itu salah satu strategi biar si pasien gak mendadak hipertensi atau biar lebih calm. Dan aku sendiri yang waktu itu polos, ‘B’ aja sih pas masuk ok. I just feel happy gitu, karna mikirnya pas keluar ruangan bisa lari-larian. Dimaklum lah ya masih usia anak es em pe.

Oke kedua, ruangan OK itu luas, terang dan gak mencekam seperti di pelem-pelem, sumpah. Terus pas proses anastesi, kita gak langsung disuntik bius, tapi sebelumnya diajak ngobrol dulu, biar nyaman dulu, terus abis itu dibarengin buat doa. Dan dengan etika pastinya, si dokter anastesi pasti bilang dulu “Neng, kita anastesi sekarang yaa, yuk doa bareng-bareng” dan di ketujuh oprasi yang aku alamin pasti semuanya kek gini dulu prosesnya. Gak akan langsung ambil tindakan semaunya, tapi they always bikin pasien nyaman dulu diruangan itu.

Finally, karna udah pernah masuk ke ruang OK pertama kali, maka OP yang kedua sampai yang ketujuh, aku kalem-kalem ajasih.

Tapi mesti, digarisbawahi yaa.. yang bikin air mata netes tuh bukan karna rasa takut, tapi yang aku rasain lebih ke setiap kali si blangkar udah diam diantara ruang tunggu  dan ruang OK. Pasti deh, mamah yang pertama kali netesin air mata nyambil doa, dan aku ikutan mewek karna yaaaaaa....

Ah please, in every situation, aku gak tega liat pipi mamah basah karna alasan apapun. Meski alasannya haru bahgia, pasti deh aku juga ikutan. Ah mungkin ini, yang kerap ngingetin kalo aku pernah tinggal di rahimnya. Jadi ya, udah sejiwa raga.

Okem. Khusus banget buat temen-temen pembaca yang mau menjalani oprasi, jangan khawatir masuk ruang OK yak. karna emang sih, ketakutan itu kadang hadir pada apa-apa yang belum kita alamin. Ujung-ujungnya, kita mati karna bayang-bayang kita. It’s sounds bad.

Pas masuknya mah gak akan se-menyeramkan itu kok, paling pas keluarnya sih semua bakal ngerasain sakit menurut definisi temen-temen sendiri. hehe

Etapi yaqueen deh. Kadang buat sembuh, kita mesti merasakan sakit dulu.
Udah ya, met malam. Selamat berjuang! Inget jangan jadi penghuni bumi yang nunggu mati aja^^


Kamis, 21 Maret 2019

The meaning of my life (Catatan perjalanan si Patah Tulang)


Katanya, setiap manusia pasti akan menemukan titik terpuruk dalam hidupnya. Lalu mereka akan menemukan titik-titik yang lainnya setelah mengalami keterpurukan itu; titik yang pertama yaitu titik ‘marah’ dimana kita gak menerima apa-apa yang menimpa kita, kita benci pada hal tersebut, hingga pada diri sendiri dan sebab terjadinya. Kedua yaitu titik ‘depresi’ dimana kita sudah merasa kehilangan tujuan hidup, gak ada semangat meneruskan perjalann hidup, hingga merasa tak memiliki arti untuk orang lain. Titik ketiga yaitu ‘negosiasi’ kita mulai bangkit tapi dengan banyak alasan, bukan karna menerima kenyataan tapi lebih kepada keras kepala dan melakukan banyak cara (negatif/positif )untuk meneruskan perjalanan, sampai kita sama sekali tak mendapatkan itu semua dan finally ketemu di titik keempat yaitu ‘ikhlas’, ialah keadaan dimana kita pada akhirnya menerima apa-apa yang menimpa kita, kita menyediakan hati yang lapang, prasangka yang baik pada Takdir yang Tuhan Tentukan, dan kemudian bisa meneruskan kembali perjalanan hidup.
Titik-titik tersebut akan terus berputar, tinggal kita yang menentukan mau duduk dititik mana, dan bagaimana agar supaya dapat menempuh titik Ikhlas lebih cepat.
Sebenarnya, titik utama yang akan mempertemukan kita dengan titik ikhlas tersebut, yaitu titik ‘terpuruk’.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku bukan lagi hanya’pernah’ mengalami titik  tersebut, tapi sering. Terhitung sejak sembilan tahun yang lalu, tepat pada tanggal 17 maret 2010.

Pada waktu itu, Allah dengan segala cerita yang masih Ia Rahasiakan, membuatkan alur bahwa aku harus mengalami ‘kecelakaan’. Yang kemudian menjadikan tulang kering dan tulang basahku mengalami fracture yang bisa disebut lumayan parah. Fracture yang  kemudian membuat aku harus melakukan oprasi pasang implant (pen) pada kaki kananku.

Itu adalah oprasi pertamaku, yang kukira oprasi itu hanya salah satu dari serangkaian pengobatan yang bisa membuatku lebih cepat bisa berjalan, namun nyatanya perkiraanku salah. Aku bahkan merasakan rasa sakit yang lebih dari sebelumnya. Oprasi yang ber-empact juga pada aktivitas harianku; karna semenjak itu, hidupku banyak membutuhkan kaki kanan orang lain. Bukan hanya mamah, tapi juga orang-orang sekitar. Oprasi yang membuat seluruh tubuhku kaku, mengharuskan aku hanya terlentang diatas kasur selama berhari-hari. Kemudian, setelah itu bukan hal mudah juga; aku mesti duduk di kursi roda selama berbulan bulan, membutuhkan tangan orang lain untuk sekedar menggeserkan kaki kananku, sampai akhirnya bisa bangkit, berdiri dan berjalan, meski harus melewati waku delapan bulan untuk dibantu skruk (tongkat) ketika berjalan. It’s not easy for me.

Selama itu, semangatku kerap naik turun, sempat ketika itu aku kufur pada apa yang Allah beri. Aku lupa pada pemberian Allah yang banyak kunikmati, aku hanya fokus pada apa yang belum mampu kulakukan. Aku pergi dari Allah, tapi aku malu, justru Allah semakin mendekatiku. Menghadirkan banyak manusia yang Ia gerakkan hatinya agar selalu ada untuk aku.

Belum selesai, belum mampu berjalan lancar, Allah uji lagi aku dengan infeksi pada area tulang. Sehingga, aku yang baru saja menikmati langkah awal mesti oprasi lagi (yang kedua) di tahun 2011.  Ini tak terlalu sulit, karna oprasi infeksi tak begitu ber-efect banyak pada aktivitas harianku. Aku menikmati keseharianku meski infeksi itu masih berbekas dan mengharuskan aku menjalani aktivitas harian dengan selalu didampingi kassa, sufratul, dan nacl, sampai pada akhirnya dokter menyarankan untuk removal implant (buka pen) sebagai solusi baik agar infeksi pada kaki menghilang terlebih melihat perkembangan pertumbuhan tulang yang baik, maka pada tahun 2012 aku oprasi lagi (yang ketiga) untuk lepas pen.

Pasca oprasi yang ketiga, aku bahagia bukan kepalang. Karna bisa merasakan berjalan dengan tanpa penyangga dalam tulang. Dan nyatanya aku mampu, aku selalu menikmati setiap jejak yang kupijak dengan kaki kananku yang baru.

Namun, ceritaku belum bisa kusimpulkan happy ending, nyatanya ujian hidup selalu tetap berlangsung. Dan yash, lagi-lagi Allah uji aku yang mesti melakukan oprasi lagi (yang keempat) pada tahun 2013 karna jatuh, jatuh yang pertama hanya membuat serpihan tulang keluar sendiri lewat luka infeksi itu; ini hanya oprasi kecil dan hanya dilakukan bebrapa menit saja, tapi tak lama dari itu aku jatuh lagi yang membuat tulang basahku (Fibula) sedikit bergeser dan mau tak mau harus oprasi untuk penggeseran tulang basah.

Aku yang waktu itu duduk di kelas 2 SMA, sangat begitu antusias untuk bisa masuk sekolah pasca oprasi yang keempat, namun belum jua aku melepas skruk pasca oprasi, Allah lagi lagi uji aku dengan jatuh lagi yang kesekian kalinya dan ini yang paling parah dimana aku jatuh sampai dua meter; yang kemudian membuat posisi tulangku back to the past. Finally, dengan sangat menyedihkan aku diharuskan pasang pen kembali (oprasi kelima).

Pada saat itu, bukan hanya aku yang terpuruk, tapi mamah jauh sangat tersiksa. Katanya, jika ia bisa bernegosiasi pada takdir ‘ia ingin meminta ia saja yang Allah uji lewat sakit’ tapi dalam hati, aku tak sepakat dengan doa itu. Mamah sudah cukup banyak mengalami ujian dalam hidup, bahkan ujian hidupku pun sudah include jadi ujian bagi mamah.

Selain itu, dokter yang merawatkupun kecewa karna aku tak benar-benar mampu menjaga apa yang sudah diperbaiki. Tapi, bukan hanya mereka; yang terberat adalah aku yang sulit berdamai dengan diriku sendiri yang terus menerus mengkambinghitamkan diri sendiri dengan segala macam kesalahan.

Ini menjadi episode tersulit juga dalam hidupku, lagi-lagi aku merasa kehilangan tujuan hidup, merasa tak berarti, tak berguna dan ingin hilang saja.

Tapi, Allah begitu sangat sayang padaku. Ia mengirimkan banyak manusia seperti mamah, saudara, dan orang-orang gila yang kemudian hingga saat ini dan selamanya kusebut ‘sahabat’. Mereka menjadi charger semangat aku, mereka adalah sebab aku tersenyum dan melanjutkan perjalanan hidupku.

Hingga Aku begitu sering menemui kata ‘syukur’ pada alur hidupku  ini, aku mulai memberikan esensi pada hidupku. Menjadi manusia yang bukan hanya ‘penunggu mati’ tapi juga manusia yang punya ‘banyak arti’.

Aku berusaha untuk mampu bahagia, membahagiakan dan berbagi kebahagiaan bagi orang lain. Maka dari itu aku memenuhi tugasku sebagai penghuni bumi dengan aktif di kegiatan kegiatan charity, aktivitas sosial, jadi volunteer, dan banyak hal. Hingga kata orang aku disebut manusia ‘seribu agenda’.

Namun bukan apa, aku hanya belajar menikmati apa yang kumiliki, bersyukur dengan apa yang ku mampu, dan menjadi manusia yang bukan hanya sekedar penunggu mati.

Hingga finally, suatu hari di tahun 2015 aku yang sudah mulai belajar magang di salah satu sekolah dasar yang juga tahun dimana aku masih semester 2, aku melakukan oprasi untuk removal impant yang kedua kali (oprasi keenam). Ini oprasi yang kupikir oprasi terakhir dalam hidupku.

Bahgia pada kala itu bener-bener can’t explain, aku menikmati setiap detik, menit, hari, pekan, bulan dan tahun-tahun dimana aku mampu melakukan berbagai aktivitas yang kucintai.
Aku melanjutkan perjalanan hidupku dengan penuh syukur, menjalani banyak macam agenda yang menjadikan aku bukan hanya seorang penghuni bumi, tapi seorang ‘penikmat hidup’. Karna, selama tahun tahun tersebut banyak pengalaman yang memberi aku pelajaran hidup.

Terlebih aku yang waktu itu memiliki kaki kanan yang lebih pendek dua senti meter dari kaki kiri mampu menjadikan titik kelemahan sebagai titik kelebihan. Sehingga, no one care dengan kekuranagn aku, mereka mencintaiku dengan apa-apa yang ku mampu.; dengan apa-apa yang ku syukuri.

Oke namun kukatakan sekali lagi, selama kita hidup nyatanya ujian akan selalu ada. Dan kali ini, lagi-lagi dan lagi aku yang Allah uji, aku merasakan ada yang berbeda dengan kaki kananku. Di tahun 2018 tepatnya, aku mulai merasakan ada keganjalan dimana aku merasa panggulku sakit setiap aku melakukan perjalanan jauh, kemudian aku yang keliru dengan tulang peluru kaki kanan yang posisinya tak sejajar, dan banyak hal yang yang kemudia menjadikan kekuatan kaki kanan aku berkurang; aku tiba-tiba terbatas jarak untuk berjalan karna sakit yang semakin hari semakin menjadi.
Segala macam terburuk sebelumnya sudah kupikirkan, termasuk dugaan harus ‘oprasi lagi’. Dan nyatanya memang iya, suatu hari di bulan desember 2018 satu hari setelah konsultasi dokter menyatakan aku mesti oprasi penggantian tulang peluru seluruhnya (Total Hip Replacement).

Ternyata, selama delapan tahun tulang peluruku memang disposisi dan aku menggunakannya tanpa sadar, hingga di tahun kedelapan setelah kecelakaan itu,tulang peluru kaki kananku rusak dan hampir membusuk; kalau hal tersebut ditemukan di tahun tahun yang akan datang bisa saja, hari ini aku hanya memiliki satu kaki. Tapi, Allah Maha Baik.

Oke, mendengar diagnosa dokter ketika itu membuat aku benar-benar sempat lupa definisi ‘ikhlas’.
Aku tiba tiba memutar kembali rekaman tahun-tahun sebelumnya,  namun yang pertama kali kuputar saat itu ialah episode-episode terpuruk. Sampai aku sempat berpikir ‘gak usah oprasi lah’ kalo oprasi aku mau apa? Mau nyusahin mamah lagi? Diam dirumah lagi? Merepotkan banyak orang lagi? Apalagi coba?

Aku bertemu lagi titik terpuruk, tapi Alhamdulillah kali ini aku lebih cepat menemukan titik ikhlas. Aku sadar, aku gak akan sampai dititik ini kalau aku gak kuat. Kalau Allah tidak menguatkanku.
Bukankah, enam kali oprasi sebelumnyapun aku mendapati banyak hikmah dan pelajaran berharga, kenapa tidak untuk meraih predikat sabar, aku mesti melewati ujian ini?

Aku sadar, aku bahkan tak bisa bernegosiasi dengan apa yang Allah tetapkan. Tapi aku masih mampu mengikhtiarkan apa-apa yang belum ku capai bukan?
dan, oprasi penggantian tulang peluru ini, bisa kusebut salah satu ikhtiarku bukan?

Dan akhirnya, Allah melapangkan hatiku untuk menerima segala macam kemungkinan yang belum kutahu alur selanjutnya.

Hingga Alhamdulillah, februari hari keenam 2019 kemarin,dr. Husoso Dewo Adi, SpOT, Spine.(yang juga dokter yang sama yang mengoprasiku sebelum-sebelumnya) Replace my HIP. Dan sekarang, aku manusia dengan HIP kanan palsu bersyukur, karna Allah masih beri kesempatan aku untuk dapat melanjutkan perjalanan hidup.

Finally, dibanyak episode yang aku lalui selama ini, aku bukan hanya bertemu dengan banyak titik terpuruk, tapi aku juga bertemu dengan lebih banyak titik ikhlas dalam hidup.

Jumat, 22 Februari 2019

Mau Apalagi?


Toh, hati kita Allah yang pegang kan? Dan sekarang, hati kamu lebih Allah condongkan ke dia, aku bisa apa? (A)

Jatuh cinta itu fitrah. Kita tak bisa menyalahi atau menyalahkan (si) apapun. Kita hanya perlu lebih hati-hati lagi bagaimana mestinya hati kita lebih tertata.

Patah hati, juga fitrah kan? Manusiawi. Tapi tidak untuk terus berlarut-larut. Apasih yang kita punya? Apa yang bisa kita kuasai?

Bukankah kedipan mata saja Allah yang Maha Menggerakkanya?
Apalagi soal perasaan. Allah yang sebenarnya punya andil yang kuat untuk meneguhkan itu. Kita hanya diberi sedikit ikhtiar untuk berusaha menjadi dan mencari yang terbaik. Tapi pada ujungnya Allah tetap Penentu (si) apa itu yang ‘terbaik’.

Kehilangan seseorang sebenarnya tak akan se-mengecewakan dan se-menyedihkan ini, jika kita tidak terlalu ‘merasa’ memiliki.

Udah! semuanya kan milik Allah. Hati kita, hati dia, pun hati dianya-dia.
Udah doa?
Udah ikhtiar?
Ya udah, mau apalagi?

Jumat, 28 Desember 2018

Teman tak nyaman


Ketika bertemu dengan orang-orang dalam perjalanan, ada yang mesti kita tekankan; ialah akan kita perankan sebagai apa orang tersebut; apakah sebagai rekan kerja, rekan semisi, atau rekan dalam segala hal.

Maksudku, rekan hidup.

Begitu memang. Kita pasti akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Tapi kita kerap lengah atas apa yang sebenarnya kita cari, atau bahkan kita sendiri tidak paham apa yang tengah kita cari.

Pasti semua orang pernah mengalami ‘kelengahan’. Termasuk dalam mendefinisikan peran seseorang dalam hidup kita.

Pun aku. Yang kalang kabut membahas peranmu dalam hidupku. Yang hadir kemudian aku kagumi, tiba-tiba saling mengenal, dekat dan menjadi karib. 

ini yang kusebut, 'Teman tak nyaman'.


Sebuah 'nyali'


Pagi itu, kamu hanya menampakkan senyum sinismu. Tertawamu tak sedikitpun menyiratkan keceriaan. Aku tau kamu tengah terpuruk dengan dirimu sendiri. Tapi kamu berusaha menyembunyikannya dari banyak manusia. Mungkin ada beberapa juga yang menyadarinya, termasuk aku.

Memang bukan satu-satunya, tapi menajdi salah satu yang memahamimu adalah bumerang bagi diriku sendiri. Bagaimana tidak?

Aku takut terlalu berlebihan. Menjadi teman baik menurutku tak nyaman, jika posisinya aku perempuan dan kamu laki-laki. Dan diantara kita sudah ada perasaan lain selain pertemanan.

Sesekali kau juga menyalahkan diriku sendiri. Kenapa harus meletakkan perasaan yang kurang tepat pada teman sendiri. Menjadi bumerang bagi diriku sendiri.

Ah, aku keliru lagi dan lagi. Aku jadi merasa serba salah. Terlebih saat kamu berada diposisi seperti ini. Sesederhana menghiburmu adalah sebuah kekeliruan, jika itu terjadi padaku.

Ah aku bisa saja dengan mudah terang-terangan menyatakan mengekspresikan perasaanku. Tapi banyak hal yang belum ku persiapkan. Semacam kehilangan seorang teman, dan sebuah penolakan.
Aku si pengabdi arti pertemanan, kehilangan satu teman bagiku kehilangan banyak harta. Terlebih teman yang ku maksud adalah kamu. Orang yang... ah sudahalah. Aku tak ingin mendefinisikan mu lebih jauh.

Nyaliku hanya sebatas mendoakamu, kamu yang kerap menjadi alasan banyak orang tertawa bahagia, mudah-mudahan Allah senantiasa meberikan kebahagaiaan padamu.
 Jumat pagi, desember hari ke 28

Selasa, 20 November 2018

[Apa kabar manusia SERIBU AGENDA?]

[Apa kabar manusia SERIBU AGENDA?]
.
Tetiba beberapa orang bilang kalo aku "manusia dengan seribu agenda" - hiperbolis banget yak?

Herannya juga, tau aku sibuk, mereka masii aja percaya buat nyibukkin aku. Dan aku oon- nya gak pernah bilang "maaf, gak bisa" malah seringnya "eimm... iya, oke siap" ya kalopun sesekali nolak paling aku menghindar tanpa menjawab.

Lah iya, wong akutu orang yang susah banget menolak permohonan tolong orang lain. Terlebih aku bisa melakukannya, akuty kek sering ngerasa "ah oke ada kok waktu, bisa kok nyempetin, gampanglah kerjain disela-sela waktu senggang" dan berbagai macam alasan serupa lainnya.

Namun pada akhirnya, ketika beberapa agenda yang aku iya-in mesti aku kerjain diwaktu yang bersamaan; disanalah aku ngerasa sangat bersalah.

Terus.... ngapain kamu selalu pengen sibuk?

Kata siapa pengen? Pengenyamah menikmati daily activity as ordinary ppl lainnnya. Ah tapi dugaan kita suka mlenceng kan? Kata siapa hidup mereka oke oke aja?

Lah, orang kalian pun anggap aku oke-oke aja. Iyakan?
Padahalmah,
Oke banget. Haha

Oke terus kenapa intinya kamu pen sesibuk itu wid? Enggak kok gak pengen. Cuman...

wht i felt before. Aku dulu sebelum bisa jalan pernah mengalami menyusahkan orang dengan tidak bisa melakukan banyak hal selama 1 tahunan dan itu bener2 menyiksa.

Gak bisa jalan, gak bisa duduk dengan nyaman, bahkan untuk menggerakkan kaki saja butuh bantuan tangan. Ini masa-masa yang menyiksa.

Lebih dari itu bayangin selama 5 tahun melakukan oprasi 6 kali. Cuman karna luka yang bandel dan jatoh berkali-kali.

Kata siapa hidup aku mudah sebelumnya?
Aku ngalamin ini semua. Dan bukan aku yang ngerasa susah tapi orang-orang sekitar aku pun, aku susahin.


Jadi, bukan tanpa alasan kenapa aku mengikrarkan diri mesti memanfaatkan apa yang aku bisa.

Mesti gak bisa lari seperti yang lain,  kamu bisa jalan wid. Aku terus meyakinkan diri sendiri dan mengharuskan, kalau aku mesti berfaedah. Dalam hal apapun.

Semua yang baca ini sebagian mungkin nyinyir. Alay banget sii atau apalah.

It's not easy for me gais. Buat bisa se-oke ini aku pernah merasa mati ketika hidup. Dan salah satu alasan bagaimana aku bisa hidup lagi, ialah support teman-teman terbaik.

Yeay! Kenapa aku termasuk orang yang mempriority-kan "arti pertemanan" ya karna mereka da best support sistem dalam hidup aku selain mamah dan keluarga.
-------------------------------------
Jadi, Apa kabar manusia seribu agenda?
Belum kok, belum nyampe seribu. Hehe


Tenang.. masih bisa itungan tangan kok. Dan pastinya otw  focus pemanfaatan sumber daya diri sendiri. Anfauhum linnas tetep, tapi cinta diri sendiri juga mesti!