Jumat, 22 Februari 2019

Mau Apalagi?


Toh, hati kita Allah yang pegang kan? Dan sekarang, hati kamu lebih Allah condongkan ke dia, aku bisa apa? (A)

Jatuh cinta itu fitrah. Kita tak bisa menyalahi atau menyalahkan (si) apapun. Kita hanya perlu lebih hati-hati lagi bagaimana mestinya hati kita lebih tertata.

Patah hati, juga fitrah kan? Manusiawi. Tapi tidak untuk terus berlarut-larut. Apasih yang kita punya? Apa yang bisa kita kuasai?

Bukankah kedipan mata saja Allah yang Maha Menggerakkanya?
Apalagi soal perasaan. Allah yang sebenarnya punya andil yang kuat untuk meneguhkan itu. Kita hanya diberi sedikit ikhtiar untuk berusaha menjadi dan mencari yang terbaik. Tapi pada ujungnya Allah tetap Penentu (si) apa itu yang ‘terbaik’.

Kehilangan seseorang sebenarnya tak akan se-mengecewakan dan se-menyedihkan ini, jika kita tidak terlalu ‘merasa’ memiliki.

Udah! semuanya kan milik Allah. Hati kita, hati dia, pun hati dianya-dia.
Udah doa?
Udah ikhtiar?
Ya udah, mau apalagi?

Jumat, 28 Desember 2018

Teman tak nyaman


Ketika bertemu dengan orang-orang dalam perjalanan, ada yang mesti kita tekankan; ialah akan kita perankan sebagai apa orang tersebut; apakah sebagai rekan kerja, rekan semisi, atau rekan dalam segala hal.

Maksudku, rekan hidup.

Begitu memang. Kita pasti akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Tapi kita kerap lengah atas apa yang sebenarnya kita cari, atau bahkan kita sendiri tidak paham apa yang tengah kita cari.

Pasti semua orang pernah mengalami ‘kelengahan’. Termasuk dalam mendefinisikan peran seseorang dalam hidup kita.

Pun aku. Yang kalang kabut membahas peranmu dalam hidupku. Yang hadir kemudian aku kagumi, tiba-tiba saling mengenal, dekat dan menjadi karib. 

ini yang kusebut, 'Teman tak nyaman'.


Sebuah 'nyali'


Pagi itu, kamu hanya menampakkan senyum sinismu. Tertawamu tak sedikitpun menyiratkan keceriaan. Aku tau kamu tengah terpuruk dengan dirimu sendiri. Tapi kamu berusaha menyembunyikannya dari banyak manusia. Mungkin ada beberapa juga yang menyadarinya, termasuk aku.

Memang bukan satu-satunya, tapi menajdi salah satu yang memahamimu adalah bumerang bagi diriku sendiri. Bagaimana tidak?

Aku takut terlalu berlebihan. Menjadi teman baik menurutku tak nyaman, jika posisinya aku perempuan dan kamu laki-laki. Dan diantara kita sudah ada perasaan lain selain pertemanan.

Sesekali kau juga menyalahkan diriku sendiri. Kenapa harus meletakkan perasaan yang kurang tepat pada teman sendiri. Menjadi bumerang bagi diriku sendiri.

Ah, aku keliru lagi dan lagi. Aku jadi merasa serba salah. Terlebih saat kamu berada diposisi seperti ini. Sesederhana menghiburmu adalah sebuah kekeliruan, jika itu terjadi padaku.

Ah aku bisa saja dengan mudah terang-terangan menyatakan mengekspresikan perasaanku. Tapi banyak hal yang belum ku persiapkan. Semacam kehilangan seorang teman, dan sebuah penolakan.
Aku si pengabdi arti pertemanan, kehilangan satu teman bagiku kehilangan banyak harta. Terlebih teman yang ku maksud adalah kamu. Orang yang... ah sudahalah. Aku tak ingin mendefinisikan mu lebih jauh.

Nyaliku hanya sebatas mendoakamu, kamu yang kerap menjadi alasan banyak orang tertawa bahagia, mudah-mudahan Allah senantiasa meberikan kebahagaiaan padamu.
 Jumat pagi, desember hari ke 28

Selasa, 20 November 2018

[Apa kabar manusia SERIBU AGENDA?]

[Apa kabar manusia SERIBU AGENDA?]
.
Tetiba beberapa orang bilang kalo aku "manusia dengan seribu agenda" - hiperbolis banget yak?

Herannya juga, tau aku sibuk, mereka masii aja percaya buat nyibukkin aku. Dan aku oon- nya gak pernah bilang "maaf, gak bisa" malah seringnya "eimm... iya, oke siap" ya kalopun sesekali nolak paling aku menghindar tanpa menjawab.

Lah iya, wong akutu orang yang susah banget menolak permohonan tolong orang lain. Terlebih aku bisa melakukannya, akuty kek sering ngerasa "ah oke ada kok waktu, bisa kok nyempetin, gampanglah kerjain disela-sela waktu senggang" dan berbagai macam alasan serupa lainnya.

Namun pada akhirnya, ketika beberapa agenda yang aku iya-in mesti aku kerjain diwaktu yang bersamaan; disanalah aku ngerasa sangat bersalah.

Terus.... ngapain kamu selalu pengen sibuk?

Kata siapa pengen? Pengenyamah menikmati daily activity as ordinary ppl lainnnya. Ah tapi dugaan kita suka mlenceng kan? Kata siapa hidup mereka oke oke aja?

Lah, orang kalian pun anggap aku oke-oke aja. Iyakan?
Padahalmah,
Oke banget. Haha

Oke terus kenapa intinya kamu pen sesibuk itu wid? Enggak kok gak pengen. Cuman...

wht i felt before. Aku dulu sebelum bisa jalan pernah mengalami menyusahkan orang dengan tidak bisa melakukan banyak hal selama 1 tahunan dan itu bener2 menyiksa.

Gak bisa jalan, gak bisa duduk dengan nyaman, bahkan untuk menggerakkan kaki saja butuh bantuan tangan. Ini masa-masa yang menyiksa.

Lebih dari itu bayangin selama 5 tahun melakukan oprasi 6 kali. Cuman karna luka yang bandel dan jatoh berkali-kali.

Kata siapa hidup aku mudah sebelumnya?
Aku ngalamin ini semua. Dan bukan aku yang ngerasa susah tapi orang-orang sekitar aku pun, aku susahin.


Jadi, bukan tanpa alasan kenapa aku mengikrarkan diri mesti memanfaatkan apa yang aku bisa.

Mesti gak bisa lari seperti yang lain,  kamu bisa jalan wid. Aku terus meyakinkan diri sendiri dan mengharuskan, kalau aku mesti berfaedah. Dalam hal apapun.

Semua yang baca ini sebagian mungkin nyinyir. Alay banget sii atau apalah.

It's not easy for me gais. Buat bisa se-oke ini aku pernah merasa mati ketika hidup. Dan salah satu alasan bagaimana aku bisa hidup lagi, ialah support teman-teman terbaik.

Yeay! Kenapa aku termasuk orang yang mempriority-kan "arti pertemanan" ya karna mereka da best support sistem dalam hidup aku selain mamah dan keluarga.
-------------------------------------
Jadi, Apa kabar manusia seribu agenda?
Belum kok, belum nyampe seribu. Hehe


Tenang.. masih bisa itungan tangan kok. Dan pastinya otw  focus pemanfaatan sumber daya diri sendiri. Anfauhum linnas tetep, tapi cinta diri sendiri juga mesti!

Minggu, 28 Oktober 2018

Menjeda Hati

Sementara ingin sekali menjeda banyak hal. Bukan hanya perihal waktu. Tapi menjeda segala macam perasaan yang menyakiti diri sendiri.

Menjeda hati yang memungkiri, hati yang mencaci, hati yang membenci, hati yang dikecewai, hati diri sendiri.

Sesekali saja. Aku hanya menggunakan hati untuk keperluan ibadahku saja. Tidak untuk memberi makan egoku.

Aku tak ingin egoku kenyang dengan segala macam perasaan yang kian menjadi bumerang dalam hati.

Kataku, aku ingin cukup saja memberi hati pada saat saat tertentu.

Ini bukan persoalan tak ingin manusiawi. Tapi hati, memang meski hati-hati.

Jadi, Jeda Hatimu sekali-kali.

Rabu, 24 Oktober 2018

Ridhakah Allah?

Aku mulai keliru dengan Istilah tak asing yang dituturkan Buya Hamka, yang katanya "Kita pasti akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari"
.
.
Waktu ke waktu berjalan, dan benar adanya disetiap perjalanan,aku berpapasan dengan jiwa-jiwa yang aku cari. Dengan orang orang yang aku cari,
.
.
Pagi berpapasan dengan petang, senja berpapasan dengan jingga, malam berpapasan dengan siang, jiwa-jiwa kita saling berpapasan.
Dan aku semakin mengimani istilah itu.
.
.
Tapi aku lupa, bagaimana ridha Allah hadir diantara jiwa jiwa yang berpapasan itu.
Apakah hanya senang dan haruku yang membuat aku semakin yakin bahwa itu orang yang aku cari,

Aku mulai keliru, bahwa Ridha Allah perlu hadir untuk memastikan semuanya, ridha Allah yang akan juga mempertemukan kita dengan orang - orang yang bertujuan sama, orang yang bertransit yang sama, orang-orang yang sama-sama menujuNya.
.
.
Sementara hati, kerap melupakan hal krusial itu, aku lebih sibuk dan asal memastikan 'dia yang aku cari, mereka yang aku cari' padahal Allah belum tentu meridhai.
.
.
Hingga sampai pada kesimpulan bahwa "Allah bukan hanya akan mempertemukan kita dengan apa-apa yang kita cari, tapi Allah pasti akan mempertemukan kita dengan apa apa yang DIA ridhai"

Allahu, ridhai kami.

Minggu, 21 Oktober 2018

[MENJADI ORANG LAIN?]


Ini nih, syukur yang kerap menjadi kufur.  Berharap menjadi diri orang lain.

Kita yang kadang merasa maha benar di dunia maya, jadi komentator baik bagi kehidupan orang lain, hingga sampai kita ingin jadi orang itu, ingin mendapatkan apa yang orang itu dapat, ingin menjadi diri orang lain, ingin menjadi dia, kaya dia, inginkan dia*eh

Kemudian hingga sebuah lagu dari Tulus seakan menjadi pendukung kegalauan diri yang ingin bertukar jiwa,

"Coba sehari sajaaaaaaa a, satu hari saja kau jaaadii diiiriku"

Padahal definisinya bukan seperti yang kita duga.

Kita gak akan pernah sadar, *eim maksudnya mungkin kita belum menyadari, banyak orang yang menginginkan kehidupan kita, banyak orang yang mungkin juga iri pada kita.

Sampai pada kesimpulannya, jikapun kita jadi seperti mereka atau mereka jadi kita; belum tentu masing-masing dari kita semua bahagia.

Jadi, syukuri harimu temans^^

Selamat Hari Senin,
Dari _Jingga_ yang menyayangimu 💕