Senin, 23 Mei 2016

Cinta Yang Salah #part1


            Ada yang sedang berlalulalang berjalan kaki,ada yang sedang hilir mudik menawarkan dagangan,ada yang sedang berdiri mengantri tiket kereta,ada yang menunggu kereta, dan seperti aku ini ada yang sudah duduk di kereta melihat mereka mereka yang disekitar stasiun Kerta api ini.

            Para penumpang berdesakan untuk dapat kursi duduknya,ada laki laki yang kewanitaan yang bersikukuh ingin duduk,ada juga lelaki sejati  yang dengan rendah hati mempersilahkan wanita dulu untuk duduk, seperti pria yang tepat berdiri di depanku, Ia laki laki itu tidak begitu manis,tapi ia begitu menghormati perempuan yang ingin duduk,ia mempersilahkannya untuk duduk duluan.

            Sementara aku yang duduk manis ditemani dengan memeori memori yang tersangkut di tempat ini yang berkelebatan di fikiranku,masih ku ingat dua tahun yang lalu sebelum ia lulus jadi seorang PRADA ,ia mengembalikan sebuah buku yang ku pinjamkan disini,ditempat ini,di sebuah stasiun kereta api,tempat bertemu dan berpisah.

            Dulu,dua tahun yang lalu itu,ia masih dalam proses testing untuk dapat masuk menjadi seorang militer, dengan semangat dan do’a aku temani  ikhtiarnya ,aku dan dia dulu memang tidak mengikat sebuah status apapun,pacar?Ah tidak itu sangatlah haram untukku,terlebih aku yang waktu itu sedang nyantren sangatlah faham bagaimana hukum pacaran. Kami sangat jarang bertemu,kami hanya komunikasi lewat sms,atau media social.kami berteman dengan baik,ya berteman. Jujur saja waktu itu aku tak punya rasa lebih untuknya,aku hanya berhubungan dengannya untuk menyambung silaturahmi sebagai sesama aktivis masjid. Itu saja.

            Tapi,semakin beriringnya waktu,rasa peduli,perhatian,dan do’a do’a yang ia panjatkan cukup membuat hatiku sedikit terpaut padanya,tapi jujurlah dulu pada waktu itu,lama sebelum mengenalnya hatiku hanya mengenal satu hati yang entah bagaimana kabarnya,aku tak akan menceritakan hal itu.

            Waktu itu, pada pertemuan di stasiun ini,ketika ia mengembalikan sebuah buku non fiksi tentang Ilmu Kalam punyaku,aku tak pernah berfikir sedikitpun bahwa pertemuan itu,sebagai pertemuan terakhirku,jujur saja sebagai wanita walaupun aku mencintai orang lain,tapi ketika ada laki laki yang mencoba mencuri hatiku aku sangatlah tergoda,dan sampailah hatiku mencintai dua orang sekaligus tapi ketika itu juga aku harus melepaskannya(kenapa? Aku akan menceritakannya),catat.aku tak menyesal,sedikitpun,Alhamdulillah.

            Beberapa minggu,setelah pertemuan itu,dia memberikan pesan singkat memang sudah biasa tapi malam itu memang berbeda,dia memberitahuku kabar terrrbahagia menurutnya bahwa dia lulus tes TNI AD setelah 5 kali gagal dan sebelumnya telah ia curhatkan padaku,aku cukup bangga. Tapi ,perlu ku tekankan,aku tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang istri dari seorang militer,bisa dibilangi tu mimpi burukku.tapi itu hanya sekelebat perasaan geer ku.

            Malam itu,aku tidak begitu bahagia,aku hanya mengapresiasi usahanya yang keras,dan doa yang tak lelah ia panjatkan. Ia sangat bahagia,mimik wajahnya berseri seri ketika memijit tombol keypad dihandphonenya,bayangku. Namun seketika bayanganku roboh setelah membaca pesan singkat yang selanjutnya,

“Wulan,ana ingin serius dengan antum,emmmmm apa antum rela menunggu ana sampai 4-6 tahun? Ana uhibbuki fillah?” Katanya lewat pesan singkat,yang seketika membuatku kaget,walaupun aku tahu ia begitu peduli,perhatian,tapi pada malam itulah pertama kalinya ia mengatakan “CINTA” padaku. Bersamaan dengan itu beribu jawaban ada dalam fikiranku,yang pasti aku bingung,YA ATAU TIDAK.

            Bagiku,seorang perempuan yang hatinya jatuh di dua hati,sangatlah dilema menghadapi ini,walaupun penantianku pada lelaki (note: yang tak ingin kuceritakan) itu tak tentu,dan tak kunjung ada jawaban,tapi tetap dilubuk hatiku paling dalam dia cinta pertamaku. Tapi satu fikiran lain,menjadi seorang istri seorang militer itu pasti terjamin bahagianya,mungkin. Dan aku tak perlu menunggu cinta yang belum tentu,dan jodoh didepan mata,tapi tetap aku harus menunggu. Aku tak yakin aku mampu.

            Aku belum menjawab pesan singkatnya,aku terlalu dilema,tapi tetap kalaupun aku bilang Ya,aku tak mampu menunggu lama,”pacaran” walaupun jarak jauh dan tak bertemu atau menjalin hubungan via media dengan pacar terlalu lama tetap saja JINNAH.

“Ya Tuhan,kenapa dia tidak mengatakannya ketika ia sudah siap nikahi ana saja?” Desahku dalam hati. Tapi masih saja aku tak yakin dengan desahanku itu.

            Aku mencoba mengetik beberapa huruf dengan ragu ragu,dan ….

“Bismillah… Afwan Bang,jujur saja ana sebelumnya tak pernah bermimpi menjadi seorang istri seorang PRADA…..” Aku sedikit bingung,tapi berusaha melanjutkan sambil terus berkomat kamit berdoa dalam hati mudah mudahan jawabanku ini tepat.

“…tapi,Jika Allah menakdirkan aku berjodonh dengan seorang militer,aku tak akan menolak jika bicara Takdir Allah,terimakasih telah mencintaiku,sebagai apapun yang abang maknai, tapi maaf….” Aku berhenti lagi,sangat segan mengetik keypad handphone ku.

“tapi,maaf…. Abang sekarang lanjutkan dulu saja pendidikannya sampai 4-6 tahun,insyaallah ana disini memebrikan do’a dan Motivasi,jika abang sudah mampu silahkan kerumah saja” aku bingung,dengan bismillah aku pijit tombol Send di pesan singkatku.

            Tak lama setelah itu,ia dengan cepat membalas sms ku,

“Kenapa, harus menunggu nanti,abang siap jika malam ini harus kerumah antum,Lan…Kita tunangan dulu,setelah 6 tahun kita menikah,bagaimana ?”

Ah rasanya,,, ia begitu mudah sekali menjawab smsku,padahal aku mengetik satu huruf pun susah,tetap!!! Aku tak akan MAMPU,menunggu terlalu lama.

“Abang… 4-6 tahun itu bukan waktu yang singkat,menunggu itu hanya lah untuk orang orang yang setia,aku takut jika aku ataupun abang tak mampu melakukan itu,terlebih kita belum halal,aku tak akan pernah nyaman,kita tak akan tahu bagaimana kedepannya, gini saja bang… ana mencintai abang sebagai sesama muslim,ana mendukung besar apa yang abang cita citakan,tapi tetap ana tak mampu dan tak akan bisa jika harus menunggu 4-6 tahun dalam penantian dalam status pacaran,selama itukah kita berjinnah lewat pesan singkat atau video call,aku tak akan hidup tenang. Abang jalani saja dulu apa yang abang cita citakan,jika dalam perjalanan abang menemukan wanita yang lebih dari ana,yang membuat abang nyaman,ana ikhlas,dan mendoakan yang terbaik, pun bagi ana, tapi ketika sudah lulus abang ataupun ana memang dijodohkan bersama,cukup satu bulan kita taa’ruf,khitbahi ana,kemudian akad,itu cukup. Kita tak perlu saling mengharapkan,kita hanya perlu saling mendo’akan yang terbaik dan menerima ketentunnya,bukannya seperti itu? Afwan ini sudah keputusan Wulan,mohon abang mengerti,karna Allah aku menolak ajakan pacaran darimu” kataku panjang lebar sampai sampai tanganku kelelahan setelah memijit mijjit tombol keypad handphoneku.

 Aku masih ingat benar rincian pesan singkat yang waktu itu aku kirimkan. Itu mungkin sedikit menyakitkan hatinya Bang Fauzan. Bukan sedikit tapi memang sangat menyakitkan,aku tahu betul itu setelah ia membalas sms ku lagi,

“oh… seperti itu,terimakasih jawabannya,abang kira respon dari perhatian yang abang berikan pada wulan mengartikan perasaan wulan yang sam dengan abang,tapi ternyata abang salah,abang mencintai orang yang salah!”

Balasan sms dari nya,sangat menyakitkan untukku,terlebih ketika ia mengatakan “orang yang salah”, aku sampai berkali kali membacanya,kenapa pada waktu itu sampai terfikirkan buruk sangka seperti itu tapi aku cukup instropeksi memang benar akupun salah,tapi kenapa bang Fauzan yang kufikir mengerti agama,bisa bisanya menjawab seperti itu,padahal waktu itu yang ingin aku dengarkan itu…

iya Wulan,abang Faham…. Inshaallah Abang ingin serius dengan wulan,setelah abang Lulus,abang akan penuhi janji Abang,antum tak perlu mendengarkan janji itu,cukup Allah yang mendengarnya,Wulan benar… memang kita tak perlu saling mengharapkan,jikapun kita berjodoh kita akan ditemukan kembali,ana uhibbuki fillah” ahhhh sekelebat harapan itu terbayang, tapi tidak,itu tidak akan terjadi. Aku tak berani membalas sms yang sangat menyakitkan untukku. Tak akan pernah berani,aku tak akan menjawabnya. Sampai saat ini.

            Hari hari ku setelah itu,fikiran dan bayangan akan apa yang bang fauzan katakan padaku,pada sms terakhirnya masih ada di benakku,aku berencana untuk menyibukkan diriku dengan berbagai hal positif,memperbanyak tilawah,Liqo dari masjid ke masjid,menulis dan sebaginya,aku mengurangi intensitas memegang handphone atau bermain dengan Media Sosial.

            Dan kira kira seminggu setelah kejadian itu,aku mencoba mulai buka lagi akun facebookku,ditelaah demi telaah ternyata bang fauzan up date sebuah status,

“Dara indah Pertiwi,ana Uhibbuki Fillah,terimakasih telah bersedia menungguku,aku akan selalu mencintaimu sayang…” tulisnya dengan ditambah emot tanda buka kurung segitiga dengan angka tiga setelahnya dan emot titik dua bintang,ah aku jijik melihatnya,ini tak pantas dilakukan oleh aktivis remaja masjid,

“Astaghfirullah,jangan urusi orang lain Lannn…”kataku sambil mengusap dada sendiri. Dan berhenti tuk mengomentari. Aku sengaja memijit tombol LIKE,

Namun tetap dalam hatiku aku ingin berteriak “Jangan,berani berani mempermainkan Kata ana uhibbuk fillah pada semua perempuan dengan mudah,baru seminggu mengatakannya padaku ,ia langsung mengatakannya pada wanita yang lain,kalau memang karna Allah kenapa secepat itu melupakan dan emmbenci,kenapa tidak emnjaganya lewat do’a,kenapa harus berlaku seperti pada wanita lain kenapa harus sangkut pautkan Jinnah didalamnya” kataku pedas dalam hati,tapi  setelahnya aku ambil wudhu dan menutup akun facebooku.

Esoknya aku memang pada waktu itu terpaksa harus buka akun facebook,karna temanku Dilla akan mengirimiku File Tugas Kelompoknya denganku,tapi ketika aku buka inbox,kenapa pesan dari bang Fauzan yang muncul,itu sangat membuatku rishi,tapi karna aku penasaran aku dengan terpaksa membukanya,di pesan itu dia hanya mengirimiku pesan yang sangatttt superr singkat,hanya ucapan “Assalamu’alaikum!” Tapi ketika akan ku balas,aku susah,rupanya dia elah meremove pertemanannya denganku,dan semua akun media social sudah tak berteman lagi,itu tak masalah.

Kejadian dua tahun itu,masih ku ingat, ternyata memang apa yang dia katakana benar,dia mencintai orang yang salah,karna memang aku tak akan pantas bersanding dengan orang yang seperti itu,afwan maksudku aku garis bawahi sikapnya bukan orangnya. Cukuplah surah Annur ayat 26 menguatkan hatiku,bahwa Lelaki Yang Baik Untuk Wanita Yang Baik,kalaupun aku belum mampu menjadi wanita yang baik,tapi saat ini setidaknya aku sedang berusaha menjadi seorang wanita yang baik untuk mendapatkan lelaki yang baik pula.

“Ahhhh lelaki yang baik seperti apa yaa?” Bisikku dalam hati dan seorang lelaki yang tidak begitu manis tepat berada didepanku tadi membuyarkan memoriku yang sedang ku ingat.

Ranselnya menabrak wajahku yang memang ketika itu aku sedang melamun,“Maaf Mbak,” katanya polos. Tak menoleh padaku sedikitpun dia malah bergegas membawa seorang Ibu Tua duduk dibelakangku di kursi yang kosong.

Rupanya,Tempat ini tak mengizinkanku untuk menyusun ingatan ingatan di memori duluku itu. Itu bukan kenangan baik. Bisa jadi lewat lelaki yang kurang manis itu. Memoriku seketika menghilang.

Dua tahun yang lalu aku dapati Cintaku yang salah.

12:20 WIB disebuah kelas yang nyaman,

Sambil menunggu siswa mengerjakan soal,

Editing tulisan yang terlupakan.

#fiksi

#sijingga


Sabtu, 21 Mei 2016

Doa itu ..


Gia masih mematung melihat derasnya air di Sungai dekat Ruangan Rs.Cahaya tempat Amanya dirawat. Derasnya air sungai,disekitar Rumahsakit seakan menghidupkan suasana pantai,ah padahal itu khayalan. Gia, pada saat itu kebetulan sedang merindukan suasana pantai wediombo di diujung timur selatan Yogyakarta,Pantai dengan Bukit karang yang terbentang indah,hamparan pasir putih luas denga kombinasi bebatuan sangat pas untuk menjadi pilihan rehat diwaktu liburan dan …

“Ah liburan , aku tak pernah memikirkan hal itu, apalagi yogya sangatlah mustahil,jika aku mampu kembali kesana, terlebih setelah kejadian ini,aku tak rela ke yogya dalam keadaan Ama seperti ini” ucap Gia dalam hati, dengan mata belonya yang masih menatap ke sungai,poni yang sedikit panjang menghalangi pandangannya terkibas kibas angin sore.

Di sudut ruangan itu,keluar seorang bapak paruh baya, dengan hasil rontgen ditangannya,dia lelaki tua itu dengan wajah yang sudah mulai keriput,rambut yang telah beruban,punggung yang sedikit membungkuk,menghampiri Gia.

“Nak,Ama mu… kena ….” Bapak itu tak melanjutkan, matanya sedikit berkaca kaca,lidahnya kelu untuk berkata sepatah katapun,ia hanya mampu menatap Gia,sambil menyodorkan hasil Rontgenannya.

Gia mulai membuka hasil rontgenannya pelan – pelan, dalam hatinya beribu rasa yang tak ingin ia rasakan bermunculan dibayangannya,berharap mimpi buruk masalalu tak ingin lagi ia alami,dalam hati ia berdo’a dengan lirih “bismillah”.

“Abah? Ama terkena Arteri Koroner. Abah tau? Dari kapan Ama mengidap penyakit ini Abah?Kenapa Abah gak bisa jadi suami yang baik untuk Ama?Kenapa Abah gak bisa menjaga Ama ketika Gia ndak ada disini?Abah jawab Giaaaaaaaa!” Nadanya meninggi,air matanya menetes beriringan dengan perkataany,ia tak terima dengan hasil rontgenannya,terlebih dari itu ia sangat tidak terima dengan perlakuan Abahnya yang tidak begitu memperhatikan Amanya,itu menurut pikiran Gia.

“Abah,sudah bilang pada Amamu untuk berhenti bekerja,tanda tanda penyakit itu sudah lama Abah ketahui,Abah sudah mengajak Ama untuk segera periksa,tapi ia kata tak apa,ia masih semangat jualan mendoan dipinggir madrasah dekat rumah Gi,iya Abah yang salah. Seharusnya Abah harus lebihkan usaha Abah,maafkan Abah,nak” pria paruh baya itu memeluk erat Gia,ia tak ingin melepaskannya.

Mimpi buruk masalalu semakin nyata dihadapannya,penyebab kematian yang dialami kaka satu satunya dulu,sekarang dialami oleh Amanya. Cukup menyakitkan memang,dan ini ujian terberat untuknya.



***

“Sudah Dhuha ya,de?” Tanya seorang perempuan kira kira tiga atau empat tahun lebih tua darinya yang duduk di sampingnya,di teras mushola Rumah Sakit.

Gia menatap perempuan itu,dilihatnya dimulai ujung kaos kaki yang dipakai perempuan itu,Gamis yang lebar dan terlihat nyaman,khimar yang terurai indah,ditambah wajah yang berseri seri,tanda ia perempuan yang ceria.ah lengkap sudah.

“Belum Mbak,saya ingin duduk dulu saja.”

“Duduknya di dalam saja,Curhatnya sama Allah saja”

“Mana mungkin Allah mendengarkan curhatanku, apa yang aku minta saja tak pernah Allah dengar,apalagi keluh kesahku itu percuma,Allah sudah membiarkan aku kehilangan Abang,dan sekarang haruskah saya siap siap untuk kehilangan Ama?” Gia terisak isak sambil menunduk dengan kedua tangan menahannya,airmatanya berjatuhan pada celana levisnya.

“De,maaf Mbak,ndak kenal ade,tapi rasanya hati ini sama sama merasakan apa yang ade rasakan,semua ujian yang Allah berikan pada kita itu bisa saja sebagai penegur Allah, atau bisa saja ketika kita berdo’a, kita tidak maksimalkan do’anya,atau kita fikirkan lagi muhasabah diri, mana mungkin kita banyak memnita, tapi apa yang Allah perintahkan pada kita saja,kita tak mampu menjalankannya,afwan ya de…misalnya aurat ade….terkadang kita terlalu banyak menuntut dan sedikit memberi…sekali lagi afwan ya de” Kata perempuan berjilbab itu,dengan bicara sedikit hati hati dengan tangan yang tak segan untuk memegang pundak Gia,yang masih tertunduk menangis.

Seketika hening,sepi sunyi di teras mushola itu,setelah kemarin sore ia mendapat kabar yang tak ia inginkan,ia belum bisa beraktifitas dengan sepertinya,ah aku fikir bukan aktifitas, bahkan tersenyum sedikitpun 2 hari berlalu belum terlihat smpai sekarang. Gia masih terdiam,seperti mendengar dengan teliti setiap satu huruf yang diucapkan perempuan itu,ia meresapi.

“De,Do’a. Do’a itu salah satu kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dengan TuhanNya. Ya,bentuk komunikasi,komunikasi selalu bisa dilakukan dengan siapapun kapanpun, tapi tetap yang menjadi komunikan yang nyaman atau baik itu,yang paling dekat dengan komunkatornya,sedang yang paling dekat dengan Allah itu...calon calon Para Ahli Syurga,para shalih,shalihat yang rajin tahajjud,rajin tilawah,shalat tak pernah lalai,perintahNya selalu terpenuhi,sedang kita. Sudahkah kita jadi komunikan yang baik untuk Sang Komunikator kita,Allah ??”

Tangisan Gia mulai berhenti,namun isaknya sedikit masih ada,tapi itu wajar,menurutku. Ia bangun dari tangisnya dan menatap dalam wajah perempuan itu.

“Terimakasih Mbak,Mbak benar,bukan pada Allah saja aku terlalu sering meminta,bahkan pada Ama dan Abah pintaku banyak sekali,tapi aku sadar apa yang Mbak katakan barusan cukup menampar fikiranku,Aku terlalu banyak meminta dan sedikit memberi,terlalu sibuk berdo’a tapi ikhtiar tak ada,ini mungkin dosaku,,,,tapi Allah berikan ujiannya lewat Ama,dan tentang Doa itu... ya Do'a itu...aku akan coba fahami,Terimakasih ya Mbak… terimakasih. ”

Peluk erat Gia,pada perempuan berjilbab itu,seketika dalam fikiranku,Tentram. Itu yang Gia rasakan.







Sabtu Malam, 00:48

masih ditengah Rumah,

Selamat menikmati hidanngan tengah malam ^^

#SiJingga

biodata ta'aruf

Malam ini, ana jol ojol ingin nulis biodata taaruf, padahal eh padahal belum ada yang ngajak taaruf.. hihi^^ eh eh eh ini bukan hanya biodata taaruf buat *calon………* tapi buat semua orang yang ingin mngenal ana…..

Biodata TAARUF
Nama                          : Nurwidya Yuliastini           
Nama Panggilan        : widy,kuwiid,ndii,idi,nurwid,widya,
Tempat tanggal lahir : Garut,29 Juli 1996
Tinggi badan              : ±160
Berat badan                : 45 kg
Warna kulit                : Sawo Matang
Golongan darah         : AB
Agama                         : ISLAM
Status                          : Mahasiswi
Suku                            : Sunda Asli
Nama Ayah               : Ahmad permana
Nama Ibu                   : Entin Supartini
Alamat   Rumah        : Kp.Babakan Parigi Rt 03 Rw 015,Desa Mangkurayat,Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut.Jabar
Hobi                            : Nulis,Nyanyi, Jalan jalan Sore sendiri (adeums Lover / pecinta senja)
Cita-Cita                     : Pengusaha,Pendidik, dan Istri Saleha

Alamat email              : Nurwidyay@gmail.com / ynurwidya@gmail.com
Fb                                : Nurwodya yuliastini
Twitter                        : @nurwidya96
Akunlain                    : IG - @nurwidya96
                                      Soundcloud – nurwidyayuliastini
                                    Blog –  senyumansijingga.blogspot.com
No .Handphone         /WA    : 089679287008 / 082240227760
KEKURANGAN  & info lainnya bisa langsung chat ana :D




Senin, 16 Mei 2016

Di Tempat Biasa


hai, apa kabarmu? disini aku menunggu
duduk terdiam mengharapkanmu
di tempat biasa kita bertemu
untuk sekedar melepas rindu

waktu yang lama kadang membuatku resah
tak apa aku mengerti
mungkin kah ini karena aku terlalu
menantikan senyumanmu

reff :kasih tetaplah disini engkau temani aku
dalam rinduku dalam sayangku engkau selalu dalam hatiku
karena ku bahagia
bertemu denganmu melihat dirimu
kan baik dan baik saja

kau menyapaku. membawa senyumanmu
senyuman dari bibir merahmu
sungguh hati ini sedang berbunga-bunga
betapa aku mencintaimu

tak ada pelukan atau pun cumbuan karena
kita harus menjaga diri
dari cinta yang akan menjatuhkan kita
cukup dengan senyumanmu

back to reff

ku menyadari? penantianku disini
tak ada artinya karena penantiamu kepada ku  

maafkanlah
ku masih belum
memastikan kebahagiaan

namun tetap disini engkau temani diriku
dalam rinduku dalam sayangku engkau selalu dalam hatiku
nanti suatu saat janji ku padamu
bersatu menjalin cinta yang kita harapkan.

Labib Mufid (Di Tempat Biasa) Lyric Cover at The Gwangmun-Kyuhyun

Pria berambut agak panjang itu masih duduk manis di bangku taman . Semilir angin yang lewat seakan tak pernah ia hiraukan, matanya masih terpaku pada daun daun yang jatuh dihadapannya namun tatapannya kosong bermakna. Ia masih duduk disana duduk terdiam dan menunggu, ya dia menunggu, menunggu seseorang.

Alunan lagu Di Tempat Biasa Coveran lirik Labib Mufid dari lagunya Kyuhyun  at The Gwangmun  menemani ia,pada sore itu.

“Ah,alam… kau adalah teman sejati yang mampu membuat nafas ini berhembus denganmu, yang mampu mata ini terpukau olehmu, dan yang mampu membuat hati ini tentram menatapmu” desahnya dalam hati kagum.

Tak lama ia menunggu seorang perempuan berkerudung panjang dengan gamis yang lebar,sungguh anggun menurutku.Kukira dialah seseorang  yang sedang pria itu tunggu.

“Menunggu hanya untuk orang orang yang setia,ya mas. Terimakasih sudah menunggu,Assalamu’alaikum” suaranya lirih memecahkan suasana yang dingin saat itu. Perempuan itu duduk dengan jarak yang agak jauh dari kursi yang pria itu duduki, mereka seolah saling menjaga, namun tetap hati mereka seakan mencair bersamaan saat itu.

“Waalaikumsalam,De. Sama sama, terimakasih juga sudah mampu menantikan Mas, sampai selama ini” jawabnya, sambil tersenyum. Ahh semakin meleleh rasanya suasana sore itu.

Sore yang sejuk seperti biasa di penghujung bulan Mei ini,sangat mendukung sekali pertemuan dua insan yang sudah lama tak jumpa,beberapa menit mereka saling terdiam,dan menunduk,sepertinya mereka sedang merangkai kata kata,ah tapi begitu lama menurutku.

“Euhh… “ pria itu memulai

“Bagaimana Kuliahmu De?” tanyanya singkat,wajahnya sekejap menatap perempuan yang duduk disebrangnya itu yang masih menunduk. Ia tersenyum, walaupun si perempuan tak menatapnya.

Agak lama peremuan itu menjawab, “Alhamdulillah Mas,masuk Semester akhir,InshaAllah do’anya ya Mas,eummmm Mas Fatih sendiri…. bagaimana?”ia menjawabnya pelan pelan,matanya sekelebat saling bertatap dengan pria itu,ia langsung menunduk lagi.

“Alhamdulillah setelah dua tahun ini Mas Kerja,Mas dapat beasiswa S2, dan Alhamdulillahnya lagi Mas bebas mau pilih Universitas mana saja”

“MashaAllah…. Alhamdulillah,Mas niatnya mau kemana ?”

“Kalo Allah mengizinkan,Mas ingin ke Turki”

            Perempuan itu belum menanggapi,sesaat mereka saling diam, perempuan itu beranjak dari kursinya, berdiri dan berpindah duduk ke sekitar bunga bunga,yang tak jauh dari kursi itu.

            “Selamat ya Mas, Sukses selalu.” katanya pendek pada Pria itu, yang ternyata sedang berdiri tak jauh dengan dirinya.

            “iya,De…oooh iya emm bagaimana kabarmu dua tahun ini?”

            “Kabarku baik sebelum bertemu ditempat biasa kita ini, tapi setelah mendengar itu, kurasa kabarku buruk sekali” kata perempuan itu dalam hatinya. Ia masih diam, dan matanya kosong ia searasa mendengar kabar yang paling buruk. Tak sadar air matanya menetes. Tapi sebelum pria itu melihatnya ia segera menghapusnya.

“......De,Miaaa?”

“Euh,Iya Mas?gimana?” tanyanya tersadar

“Kabarmu bagaimana?”

“Alhamdulillah…Mas sepertinya ana lupa ada janji, ana harus pergi… Mudah- mudahan pulang dari Turki,Mas Fatih Sudah Sukses,terimakasih untuk semuanya.” Ia berusaha ingin beranjak pergi,

“De….!”

“Iya,Mas?”

“Sebenarnya, sebelum Mas ke Turki Mas ingin membawa Teman Hidup Mas ke Turki, do’akan ya, MUdah mudahan Allah mengabulkan”

Ahh, semakin hancurlah hati si peempuan itu, mendengarkan kata demi kata dari pria itu yang sebenarnya ia sendiri tidak tau apa makna sebenarnya.

“oh…. Ba..ba..gus kalau se seperti I..itu Mas, ana doakan yang terbaik” jawab perempuan itu sedikit gelagapan, sedikitpun ia tak mampu mengangkat wajahnya untuk menatap wajah pria itu walaupun hanya sepintas, karna hal itu menyakitkan.

***

Dia,pria yang dua tahun yang lalu bertemu untuk pertama kalinya ditempat yang sering mereka sebut Di Tempat Biasa,membuat perempuan itu mempertahankan hatinya untuk berusaha memantaskan diri dan menjaga diri, ia bertemu ditempat yang memang Allah telah rencanakan sebelumnya. Di sebuah tempat dimana mereka sering menghabiskan banyak waktu mereka disana, mereka adalah orang orang yang senang dengan keheningan dan ketenangan di setiap Senin Sore.

Suatu Hari si pria yang sedang asyik menulis melihat seorang perempuan berkerudung panjang dan bergamis lebar ,cantik duduk disebuah kursi sambil melukis yang pikirnya tempat langganan si perempuan itu.

Dari pertemuan itu, mereka saling bertukar cerita bagaimana seorang penulis bisa berkoordinasi dengan seorang pelukis,mereka tak pernah janjian untuk bertemu, tapi memang mereka selalu bertemu disetiap senin sore, sampai pada suatu saat…

“De Mia, ana mau pergi ke Jogja,ada panggilan kerja disana,Alhamdulillah ana lulus tes tanpa pajak” kata pria itu,belum juga dijawaboleh si permpuan ia melanjutkan…

“ Mas selalu berdo’a yang terbaik untuk ade, mas dua tahun lagi pasti ketempat ini dihari yang sama di saat yang sama, sore hari, dua tahun lagi kita bertemu jika Allah menghendaki, Mas ingin melihat De Miaa,sudah jadi pelukis hebat,atau sudah jadi seorang istri yang hebat yang mampu melukiskan berbagai cerita baik dalam hidup keluargamu nanti De..”

Perempuan itu masih menunduk ia tak berani menjawab,

“Sebenarnya, jika Mas Mampu, saat ini juga Mas akan meminta bapakmu agar berkenan menitipkanmu pada Mas… sayangnya Mas masih harus memantaskan diri, semua lukisan mu sudah mas ceritakan dalam lembaran hidup Mas, semua keizzahan dan keiffahanmu sungguh membuat mas terkagum kagum pada hasil ciptaanNya. Sungguh Mas, tak berani membiarkan seorang perempuan shaleh duduk dengan penuh harapan pada penantian. Mas tak memintamu menjawab perasaan mas, mas tak memintamu untuk menunggu apalagi menanti,tapi kabarmu 2 tahun yang akan datang itu sudah janji Mas, sekalipun De Mia sudah berkeluarga,Nanti bawa pasanganmu ya De” kata pria itu panjang lebar melanjutkan, tanpa jeda. Ia tarik nafas, karena memang kata kata yang telah ia keluarkan sebelumnya, memang memerlukan banyak tenaga untuk mengunkapkannya.

“Sebenarnya,Sungguh aku tak berani menjawab apapun….Mas,tapi hati ini memaksaku untuk mengungkapkannya,Mas…. Kalaupun ana juga mampu,ana yang akan pertama kalinya meelamar Mas untukku.untuk ana jadikan seorang penulis di kehidupan kita,tapi sayangnya akupun masih kurang Mampu yang sangat jauh dar dirimu seorang shaleh,bijaksana dan……., Kita tak perlu saling Menunggu kita hanya perlu saling melepaskan dan mengikhlaskan semuanya” jawabnya mengakhiri dan tetap pandangannya masih menunduk. Di sisa kata katanya terselip tetesan air mata yang sengaja terjatuh di mata insah permpuan itu. Ikhlas.

***

 “De….Jika berkenan, Mas ingin bertemu lagi denganmu” ia bicara sedikit sedikit mencairkan lagi suasna yang hening

“Tapi bukan ditempat biasa kita ini,tidak perlu menunggu pulang dari turki, atau tidak perlu menunggu lama,Mas ingin segera bertemu denganmu De.Bukan ditempat biasa ini tapi…. Tapi… di..…di….. pelaminan De,”katanya menjelaskan malu dan sedikit gelapan mengungkapkan maksdu baiknya itu.

“De Mia tak perlu menjawabnya, cukup ayahmu nanti yang menjawabnya, malam ini ana akan bertamu ke rumah ayahmu De”

namun tetap disini engkau temani diriku
dalam rinduku dalam sayangku engkau selalu dalam hatiku
nanti suatu saat janji ku padamu
bersatu menjalin cinta yang kita harapkan

            inilah jawaban dari keikhlasan selama dua tahun ini, dan jawaban atas usaha dalam memantaskan diri ini”

***

            Di tempat biasa itu meraka bertemu kembali, tapi ada yang beda dengan pertemuan itu,mereka bertemu di waktu yang sama,saat yang sama, tak ada yang lebih dulu menunggu pun tak ada yang lebih akhir dinanti. Tak ada mata yang saling menunduk lagi, tak ada duduk dengan jarak lagi, tak ada suasana yang saling membisu. Tak ada lagi perasaan yang meleleh dikeduanya tanpa mereka sendiri yang mencairkannya dengan suka hati, sehingga lebih nikmatlah perasaan mereka itu.

            Di tempat biasa itu,Penantian, Keikhlasan,Usaha,Kepantasan dan do’a terjawab semua oleh kebahagiaan. Bahagia Dunia dan InshaAllah sampai akhirat.









Mon.16th May - 22:12 WIB di rumah sendiri

Am so sleepy. Ini FIKSI dan IMAJINASI

Selamat malam dari Jingga.



Jumat, 13 Mei 2016

ku Menanti Lirik Cover (Love Someone - Kyuhyun By Labib Mufid)

 oke, ini merupakan lirik cover dari lagunya Kyuhyun Love someone yang temen ana cover liriknya, berdasarkan permintaan ana,

dan cerpen kmarin yg ana buat menjadi sebuah film/drama, maka lagu kumenanti yang akan jadi soundtrack nya haha :D


Kumenanti (cover lirik dari Kyuhyun - Love Someone)

Tampak mentari tersenyum indah
warnai hariku ini
hembusannya seperti biasa
hembuskan semangat pagi

Tak kusadari ku rasakan lagi
rasa yang dulu pernah ku tuai sendiri
kini hadir lagi menghiasi hati
Aku pun tak mengerti, apa yang terjadi

Seseorang yang ku nanti
di dalam mimpi
mungkinkah akan hadir lagi
menyambut sebaris
doa yang terpanjatkan
kepada sang ilahi

Ketenanganku seakan terusik
Getar kehadirannya semakin membisik
Hitam bayangannya seakan terkikis
Kini dia telah datang di hadapan diri

Seseorang yang ku nanti
di dalam mimpi
datang di tempatku berdiri
memberi sebaris
salam kehangatan
yang memberiku arti

Ku tak berharap lebih dari ini
biarlah Allah beri yang terbaik untukku

Pertemuan kali ini aku syukuri
karena takdir yang menghendaki
Walaupun sekejap
namun aku pun berharap
dipertemukan lagi
dalam kesempatan yang terbaik 

Kamis, 12 Mei 2016

Dari Pesan Pertama ke Pertemuan Kedua

Sungguh aku bersyukur kepada tuhan
yang agung atas pertemuan indah
yang sungguh sangat mengesankan

Itu potongan lirik yang teman ana ciptakan,judulnya “Satu Bulan Singkat” ah denger lagu ini tiba tiba ana ingat Satu Hari Singkat bersama  mas Hafwan.iyaaaa,Mas Hafwan yang usai pesan pertama itu, kita berlanjut  chat lalu Lost Contact lalu terhubung lagi dan sampai akhirnya bertemu sesingkat singkatnya sehari penuh,di atap yang sama. Ah,mengesankan.
**
                Pagi ini mentari menyambut hari dengan semangat, anganku terbang seakan sedang menikmati alunan angin yang berhembus kuat,hatiku seakan mengerti suasana alam yang begitu cerah. Aku berjalan menuju tempat kerja,ditemani melodi siulan burung yang menyempurnakan cerahku dipagi ini.“ Ahh alam, Fabiayyi alaa irabbikuma tukadzibaan ???” lirihku dalam hati sambil senyum mesem mesem sendiri.
“ Ka umaaaaa,bentarrrrr !!!” Fira berhenti didepan ana,seakan meng-cut semua drama yang sedang ana buat. 
“Ini…. Mas Hafwan Minta pin BB kaka.” Katanya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
“Mas Hafwan Mana ?”
“Ustadz Umar,Ustadz Umar, kakanya Alesha”
“Masaaaa?” deg,dalam hati ana bicara “Ya Allah….. drama apa lagi ini?”
“Fira kasih aja.” kataku pendek tak ingin bicara apapun, “Kaka duluan ya Fir,jangan bilang apapun sama Mas Hafwan,kasih aja Pin nya, jangan ditambahin kata kata apapun.”
                Entah apa yang Fira fikirkan,setelah ana beranjak meninggalkannya dalam kebingungan, dan anapun gak tau bagaimana Mas Hafwan bisa Minta Pin ana,oh iya Alesha. Bisa saja lewat Alesha adiknya Mas Hafwan temannya Fira. Tapi untu apa,kok sampe sampe minta pin ana,ada keprluan apa? Apakah do’a ana dijawab Allah?.ah petanyaan pertanyaan itu, Oke lupakan Ra.

***
                Malam itu, setelah paginya Fira yang nyampein permintaannya Mas Hafwan ke ana,ana cukup gak tenang. Rasa, ya rasa itu seperti ini, kutipan puisi dari Jingga…
 Rasa tak seperti debu                                                                                                                              
 Yang mudah melebur terbawa angin,                                                                                                      
 Tak seperti air                                                                                                                                       
Yang mudah mengalir terbawa arus                                                                                                                 
Dan tak seperti hujan                                                                                                                                
Yang mudah menghanyutkan
                Ana pikir benar,Rasa itu. Setahun yang lalu masih statis disini, walau banyak angin yang ingin menghembuskan,air yang sengaja lewat mengalir,atau bahkan debu yang setiap saat berkelebat melewat,rasa ini masih tetap ada,walau ada beberapa hati yang ingin coba masuk,rasa ini tetap ada.
*tring*
Undangan kontak baru

Hafwan Kafil Halim
                Ana baca notif itu berkali kali, “Ya Allah…. Benarkah?” Ana menjerit dalam hati. Tak lama setelah ana acc ,dia langsung Chat “Assalamu’alaikum ukh,bagaimana kabarnya?afwan sebelumnya ana ganggu,ana ingin menjelaskan ana remove anti di FB, pas ana pulang ke pondok,ana ketauan Murabbi sering chat dengan anti dan ana dapat hukuman,mungkin memang kita tidak merasakan melakukan hal yang tidak baik, tapi Afwan memang benar ana takut terjadi fitnah, apa yang telah ana katakana dulu sama anti, jadi ana terpaksa remove.”
“Hah???? Ini bener mas Hafwan Humairaaaa,Wake Up” ana bicara sendiri. “Ah,ra kok mas Hafwan tiba tiba Chatnya kaya gini, padahal kan,belum tentu juga ana mikirin hal itu,ah syudahlah” ana masih bicara sendiri dan bingung gak tau mau balas apa, jujur rasanya Malam itu seperti dikasih bintang yang susah keluar dari kegelapan dan tiba tiba cahayanya masuk,seakan celahnya terbuka kembali.
Ana mulai mengetik…. “Wa’alaikum salam,Mas. Alhmdulillah ana sehat.Masalah itu, tenang saja ana tidak mempermasalahkannya, lagi pula antum sedang proses 30 Juz kan? Apa yang Murabbi antum katakana apapun itu pasti yang terbaik, untuk menjaga hafalan antum juga khy,bisa saja dengan keseringan Chat Hafalannya menghilang,hehe.dari kejadian itu sudah 2 tahun ya khy ? Alhamdulillah ternyata Allah masih memberi jalan silaturahim. Oo iya Mas Apa Kabar? Bagimana dengan Hafalannya? Ana masih diam di juz 30 hehehe, Alhamdulillah ana udah mulai belajar berbagi ilmu di sebuah madrasah, doakan yaa , mudah mudahan dalam proses ini,Allah berkahi dan menghasilkan sesuatu yang baik.”
                Beberapa detik setelah ana balas chatnya,ia balas lagi,katanya sekarang ia sedang proses juz 16. MashaAllah,dalam hati ana bilang gini “Ya Allah…dikasih Mahar 5 Juz saja ana mau”.stop. ra stopped!!! Mulai dari chatan itu lagi, kita selalu saling tukar cerita lagi eitsss maksudnya suka tapi tidak selalu,dia yang selalu  mulai menyapa,dan ana tahu percis kapan waktu ia free di pondok, kalau tak kamis Malam, Jumat siang sampe Sore ia pasti menanyakan kabar, atau sekedar iseng Chat,ana gak begitu terlalu mengharapkannya, hanya saja ana merasakan Ketika ana dekat dengannya,atau sekedar Chat,Allah dan SyurgaNya terasa lebih dekat.
***
                Sore ini gerimis menyapa membawa petir nan menggelegar, sedang angin berhembus tak karuan berkeliaran tak bertujuan ,maksud hati menghampiri awan,namun raga tak mampu dengan sunyinya senja,apalagi mengikuti hujan,tak kuat mendengar teriak gemerciknya. Hujan ya sore ini sedang Hujan,tapi luarbiasanya Hati ana saat ini gak segerimis hujan di sore ini. Kabar dari Mas Hafwan yang akan pulang dari pondok,cukup membuat ana berdebar debar,padahal sedikitpun ana tak yakin dengan pulangnya ia,kita bisa bertemu lagi usai pertemuan tragedy pesan pertama dua tahun yang lalu itu.
*tring* tiba tiba ada pesan masuk, “Assalamu’alaikum ukht. Katanya besok di AlIkhlas ada training? Ana sama teman teman InsyaAllah kesana,terimakasih undangannya J
“Terimakasih Undangannya”, ahhh ana rasanya seperti terbawa lagi ke tragedy pesan pertama itu, perciss kata katanya. Sebelumnya ana belum tahu bahwa Mas Hafwan sudah Sampai rumah. Ana tak menghiraukannya,tapi…. “Siapa ya, yang ngirim Undangan ke….?”
“Ke Ustadz Umar?Fira yang kirim ka,Alesha yang minta,jadi ana kirim ke remaja Mesjid nya juga” celetuk fira mengagetkan.
“Ah kamu,Fir masuk Kamar itu Salam duluuuu,eh eh tapi kaka kan blm beres bicara kamu udah bilang gitu aja, sok tau”
“Tuh…..Fira gak sengaja kebaca Chatannya kaka sama Mas hafwan” katanya,polos mearasa tak berdosa, sambil nunjuk ke Smartphone ana.
Oke,mengabaikan persoalan Fira da nana,hari “besok” telah tiba,ana mendadak sedikit ribet pilih gamis sama khimar yang cocok,padahal Ribetnya yang ana lakukan,untuk Mas hafwan, Acara udah dimulai Ia tak kunjung datang,
“Syudahlah…sudah 1 jam berlalu, ana rasa ia gak akan hadir,raaaaa istighfar ikut acara ini karna Allah bukan karnaa…..”ceroscos ana dalam hati, dan belum juga selesai tiba tiba pintu Madrsah terbuka..
“Assalamu’alaikum….” Suara itu,ana lihat ia dengan kemeja biru kotak kotaknya tampak wibawa,dengan  keringat didahinya menjadikannya tampak lebih…”Ah,Astaghfirullah” kata ana dalam hati, sambil langsung nunduk.
                Satu atap,bukan hanya satu atap,tapi satu bari. Tepat. Ana gak ngeuh sebelumnya Mas Hafwan duduk di depan ana walopun terhalang oleh hijab,hari itu sangatlah beda untuk ana, selain ana merasakan bahwa Syurga itu ada,ana merasakan energy positif yang ana miliki lebih banyak,entah kenapa.
                Acara telah selesai,ana tak berani sedikitpun untuk menghampirinya,tapi ternya Allah bicara lain,kita berpapasan…
“Khimarnya,bagus Ukh…istiqomah yaa,afwan ana duluan pulang,salam untuk Fira dan Umy ya,Assalamu’alaikum” katanya cukup singkat, tapi sampai membuat ana bingung mau jawab apa
“Terimakasih,Wa’alaikumsalam” hanya itu yang ana katakan,inginnya ana mengucapkan hati hati ya,atau apalah sebagainya, tapi ana ingat, ana harus menjaga hati dan diri,ana ulangi JAGA HATI DAN DIRI.
***
Hujan ..ia selalu datang membawa cerita,senja sunyi berselimut awan gelap sambut malam mencekam diiringi suara indah gemercik hujan,para bintang bersembunyi dibalik langit langit yang merindukan bulan,entah dimana ia ada,mungkin malu dengan indahnya suara gemercik hujan,atau segan bertemu sunyinya senja.
Puisi ini benar adanya, seperti halnya malam ini, usai pertemuan itu, hujan datang bawa ceritanya,Mas Hafwan kirim ana chat yang begitu ngena ke hati..
“Assalamu,alaikum ukh, ana berdo’a setelah pertemuan tadi,Allah pertemukan kita lagi dalam keadaan baik,atau dalam suatu hal yang baik. Ana pamit yaa.. besok sore ana mendadak harus ke Pondok lagi,saling doakan yang terbaik ya, mohon jangan tunggu chat-an dari ana, ana hanya minta do’a saja, Night,Laylatusyuruur. Afwan lebih segarnya tdurnya wudku dulu ya ukhty”
Iya ,ana tak tau benar maksud dari makna “jangan tunggu” yang Mas Hafwan katakana, ana tak ingin berbesar hati, tak ingin menduga duga terlebih lagi mengharapkan,sekalipun itu suatu yang baik, tetap saja berharap pada selain Sang Maha Pemilik Harapan itu bukanlah keinginan ana.
Malam ini,ana,hujan dan ceritanya ditemani Lagu Cinta Utama dari Arafah Nasheed,ana berdoa agar semua yang terbaik Allah berikan,pada waktu yang tepat. Dan ana ulangi doanya Mas Hafwan
 “ Mudah mudahan Allah pertemukan kita lagi dalam keadaan baik atau dalam suatu hal yang baik

ku lihat mentari menyambut hari
akan datang nya pagi hari ini
walaupun cinta mu indah pada manusia
cinta Allah yang utama

rasa cinta fitrah manusia
di ciptakan sang maha esa
namun carilah cinta hakiki
menjadi kan cinta abadi


kamis malam,di tengah rumah yang bercat baru
00:09 selesai
dengan ditemani dua lagu dan juga Do'a Merdu
Read cerita sebelumnya :
 http://senyumansijingga.blogspot.co.id/2014/08/bermula-dari-pesan-pertama-oleh.html